Bipolar, Apakah Itu?

Ilustrasi Kasus Klinis

Nn. M adalah seorang gadis berusia 20 tahun dan masih berkuliah di suatu universitas di Jakarta. Ia datang ke psikiater dengan diantar oleh teman-teman satu kostnya. Saat masuk ke ruangan periksa, Nn. M menyapa terapis dengan suara keras dan tertawa dengan gembira. Nn.M mengatakan, ia bingung mengapa diajak menemui psikiater padahal ia baik-baik saja bahkan perasaannya cenderung sangat bahagia akhir-akhir ini. Saat dilakukan pemeriksaan psikiatrik lebih jauh, Nn.M mengakui bahwa akhir-akhir ini ia memang agak boros. Ia membeli lima pasang sepatu, masing-masing seharga separuh gaji yang diterimanya dalam sebulan. Ia juga membeli banyak barang untuk dibagi-bagikan pada teman-teman dan kenalannya yang menurutnya membutuhkan barang-barang tersebut. Uang tabungan yang dikumpulkannya setelah bekerja keras selama dua tahun terakhir habis dalam sekejap. Namun ia merasa tidak ada yang salah dengan hal tersebut karena ia masih bisa meminta uang dari ayahnya yang menurutnya adalah orang paling kaya di Indonesia. Nn.M juga menceritakan bahwa akhir-akhir ini pekerjaannya di kantor banyak yang terbengkalai karena ide-ide membanjiri pikirannya. Ia menggambarkan bahwa ide-ide tersebut seperti berkejaran di dalam benaknya. Ia merasa bahwa semua ide-ide tersebut sangat brilian sehingga ia bingung harus mewujudkan yang mana terlebih dahulu. Ia tidak merasa bahwa perilakunya tersebut bermasalah dan mengatakan bahwa jika ia dipecat sekalipun, ia yakin dapat membiayai dirinya sendiri dengan kreatifitas yang dimilikinya saat ini. Ia merasa bahwa energinya sangat banyak hingga kadang-kadang ia sama sekali tidak butuh tidur dan tetap merasa segar bugar. Ia mengatakan bahwa perasaannya sangat baik saat ini, ia bahkan merasa kepercayaan dirinya melambung sangat tinggi. Saat dilakukan pemeriksaan, Nn.M menjawab dengan sangat cepat dan pembicaraannya seolah-olah tidak dapat dihentikan. Topik pembicaraannya melompat-lompat dari satu topik ke topik lainnya. Nn.M menggambarkan dirinya sendiri sebagai “asyik” saat ini, ia heran mengapa teman-temannya justru merasa terganggu dengan kondisinya saat ini padahal kondisinya dahulu cenderung pendiam, rendah diri, dan sulit bergaul dengan orang lain. Ia juga mengakui bahwa di masa lalu, ia pernah merasa sangat putus asa hingga hampir setiap hari ia menangis tanpa sebab yang jelas hingga kadang-kadang ia ingin bunuh diri saja. Kondisi depresi tersebut dialaminya beberapa kali dan menurutnya yang paling parah adalah satu tahun yang lalu.

Pendahuluan

Gangguan bipolar adalah gangguan mood (suasana perasaan) yang dikarakteristikkan dengan episode depresi dan manik atau hipomanik. Dahulu gangguan ini dikenal sebagai “manic-depressive illness.” Pada awalnya antara skizofrenia dengan gangguan bipolar saling bertumpang tindih dalam penegakan diagnosisnya namun kemudian diberi batasan yang jelas oleh Emil Kraeplin, seorang psikiater Austria.

Depresi adalah suatu kondisi suasana perasaan yang menetap sedih dalam jangka waktu panjang. Sedangkan pada kondisi manik atau hipomanik terdapat suatu kondisi suasana perasaan yang berkebalikan dengan depresi di mana terdapat suatu suasana perasaan yang gembira secara berlebih-lebihan, meluas, atau iritable (mudah menjadi marah). Kondisi mood yang meningkat ini akan menyebabkan perubahan pada diri pasien meliputi peningkatan energi, gangguan tidur, gangguan makan, rasa percaya diri yang berlebihan, waham kebesaran, kontrol impuls yang buruk, hingga perilaku agresi dan tanpa perhitungan. Hipomanik adalah kondisi mood yang menyerupai manik namun dalam derajat lebih ringan. Episode manik harus berlangsung sekurangnya 1 minggu, sedangkan episode hipomanik berlangsung sekurangnya 4 hari.

Episode depresif dari gangguan bipolar memiliki kriteria diagnostik yang sama dengan gangguan depresi mayor episode tunggal. Sedangkan pada gangguan bipolar episode campuran terdapat gejala-gejala manik atau hipomanik dan depresi yang berganti-ganti secara cepat pada suatu periode waktu yang berlangsung sekurangnya satu minggu. Pada tampilan klinis, seorang yang menderita gangguan bipolar episode campuran biasanya mengalami kondisi mood yang sangat tidak stabil. Secara umum, terdapat dua jenis gangguan bipolar, pada gangguan bipolar tipe satu, ditemukan sekurangnya satu episode manik. Sedangkan pada gangguan bipolar tipe dua ditemukan sekurangnya satu episode hipomanik.

Epidemiologi

Banyaknya orang yang mengalami gangguan ini adalah berkisar 1-3% dari keseluruhan total populasi di Amerika Serikat. Sedangkan jumlah yang menderita gangguan ini di Indonesia, tidak diketahui dengan pasti. Sekitar 10%, individu dengan gangguan depresi mayor biasanya akan mengalami episode manik atau hipomanik pada perkembangan penyakitnya. Onset usia yang muda, ditemukannya gejala-gejala psikotik (menyerupai skizofrenia), dan ditemukannya episode depresi berulang merupakan faktor risiko munculnya gangguan bipolar.

Menurut perkiraan, rata-rata angka morbiditas dari pasien yang tidak diterapi adalah 14 tahun di mana akan muncul kondisi hilangnya produktifitas dan gangguan dalam fungsi hidup sehari-hari. Dijumpai perilaku bunuh diri pada 10 hingga 20 persen pasien. Gangguan ini umumnya muncul pada awal usia 20 tahunan walaupun variasinya luas. Pria dan wanita memiliki kemungkinan yang sama untuk menderita gangguan ini. Tidak ada data mengenai variasi gangguan pada kelompok ras atau etnik yang berbeda.

Pembentukan dan Penyebab Munculnya Gangguan Bipolar

Penyebab dan pembentukan gangguan bipolar belum dapat ditentukan hingga saat ini dan belum ditemukan penanda biologis yang berhubungan secara mutlak dengan gangguan bipolar. Obat-obat psikiatri golongan mood stabilizer diketahui memiliki efektifitas yang cukup tinggi dalam mengendalikan mood yang tidak stabil tersebut.

Secara genetik, diketahui bahwa pasien dengan gangguan bipolar tipe I, 80-90% di antaranya memiliki keluarga dengan gangguan depresi atau gangguan bipolar juga (yang mana 10-20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada populasi umum). Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita gangguan yang serupa dibandingkan anak kembar yang berasal dari dua telur, jika anak kembar tersebut dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Rata-rata tingkat kemungkinan pasangan kembar menderita gangguan yang sama berkisar 60-70%.

Untuk gangguan bipolar tipe I, keluarga terdekat dari individu yang menderita gangguan ini memiliki risiko tujuh hingga sepuluh persen untuk menderita gangguan yang sama. Faktor psikososial yang diketahui sering memicu timbulnya gangguan mood ini, di antaranya tekanan lingkungan sosial, gangguan tidur, atau kejadian traumatis lainnya.

Gambaran Klinis

Saat datang pertama kalinya untuk berobat, umumnya pasien datang dengan gejala-gejala depresi. Gangguan bipolar merupakan kondisi yang kronik dan individu yang menderita gangguan ini umumnya memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, gejala utama yang terlihat adalah depresi dalam derajat ringan atau subklinis. Perbandingan hari lamanya gejala klinis depresi dan manik pada gangguan bipolar I adalah sekitar tiga berbanding satu, sedangkan pada gangguan bipolar II, lamanya hari depresi dibandingkan hipomanik adalah sekitar lima belas berbanding satu.

Terdapat suatu kondisi yang dikenal sebagai “rapid cycling” yang merujuk pada kekambuhan gejala yang terjadi sebanyak empat kali atau lebih dengan kondisi manik atau hipomanik dan depresi yang berganti-ganti secara cepat pada satu episode dalam sekurangnya 12 bulan terakhir. Gejala klinis yang muncul pada episode ‘rapid cycling’ tidak berbeda dari gejala klinis yang berlangsung dalam episode non-rapid cycling hanya saja pada episode ‘rapid cycling’, gejala-gejala manik atau hipomanik dan depresi berganti-ganti dengan sangat cepat. Menurut penelitian, kondisi ‘rapid cycling’ jauh lebih sulit untuk diterapi. Pada kondisi yang berat, dapat muncul gejala-gejala psikotik pada gangguan bipolar.

Evaluasi, Diagnosis, dan Penilaian Awal

Gangguan bipolar adalah suatu jenis gangguan jiwa yang sulit ditegakan diagnosisnya secara tepat. Ketika pasien datang untuk pertama kalinya, umumnya pasien didiagnosa dengan gangguan lain yang gejalanya bertumpang tindih dengan gangguan bipolar. Sekitar 19% pasien, mendapatkan diagnosis lain ketika datang untuk pertama kalinya. Sekitar sepertiga pasien mengalami kekambuhan gejala dalam rentang waktu sepuluh tahun paska mencari pertolongan untuk pertama kalinya hingga mendapatkan tatalaksana yang tepat. Kemungkinan kekambuhan gejala sangat tinggi sehingga diperlukan pengobatan maintenance yang ditujukan untuk pencegahan kekambuhan gejala.

Pasien biasanya tidak mencari pertolongan ke psikiater atau dokter ketika mengalami episode manik atau hipomanik. Episode manik dan hipomanik sering kali disangkal atau dilupakan oleh pasien. Pada kondisi hipomanik terutama, pasien umumnya mengalami kondisi kepercayaan diri yang meningkat, lebih mudah bergaul dengan orang lain, produktifitas yang meningkat. Hal-hal tersebut akan menyebabkan pasien mengesampingkan gejala-gejala yang lebih berat dan mengganggu dari gangguan ini, seperti emosi yang tidak stabil, argumentatif, insomnia, penilaian situasi yang buruk, dan melakukan perilaku berisiko tanpa memikirkannya dengan baik hingga pasien dapat terlibat dalam perilaku free sex atau munculnya perilaku-perilaku impulsif lainnya.

Pada kondisi depresi sendiri, juga terkadang pasien tidak datang untuk mencari pertolongan karena gejala-gejala yang muncul umumnya berupa keluhan fisik yang serupa dengan sakit fisik yang sesungguhnya seperti pusing, sesak nafas, rasa sakit di badan, dan sebagainya. Gejala-gejala seperti rasa kehilangan tenaga, hilangnya gairah, rasa kosong dan hampa, dan perasaan tak berdaya pada umumnya tidak dipertimbangkan oleh pasien untuk mencari pertolongan.

Pemeriksaan Penunjang

Dari penelitian pada penderita gangguan bipolar berusia dewasa, diketahui bahwa pada pemeriksaan MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic) menunjukan penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis). Hingga saat ini dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian-bagian otak tersebut akan menyebabkan gangguan dalam pengaturan mood dan fungsi kognitif.

Tatalaksana

Hingga saat ini, tatalaksana untuk gangguan bipolar masih difokuskan dalam pemberian terapi farmakologi. Obat-obat golongan mood stabilizer diberikan baik untuk kondisi akut maupun untuk terapi maintenance yang bertujuan mencegah kekambuhan. Obat-obat anti depresan sangat dihindarkan karena dapat memicu munculnya gejala manik pada pasien. Terapi farmakologis biasanya dikombinasi dengan terapi non farmakologis berupa psikoterapi.

Informasi pusat terapi gangguan bipolar, silahkan klik di sini

2 comments

Pesan Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s