Nyeri Psikogenik

Nyeri sering dianggap hanya merupakan gejala sakit dan abnormalitas dari fungsi tubuh tertentu. Sebenarnya nyeri juga dapat timbul akibat konflik-konflik psikologis yang tak terselesaikan dengan baik yang dikenal sebagai nyeri psikogenik. Penelitian oleh para ahli di bidang psikosomatik menunjukan bahwa selain dipengaruhi oleh kondisi nyata gangguan fisik dan kondisi jiwa, nyeri juga terpengaruh kuat oleh kondisi emosi, fungsi kognitif, dan faktor-faktor sosial yang menimbulkan serta mempertahankan rasa nyeri. Penelitian juga menunjukan bahwa respon setiap orang sangat bervariasi dan sangat personal dalam menyikapi rasa nyeri. Penting untuk membedakan antara nyeri yang murni somatik (bersumber pada masalah fisik) dan nyeri yang terpengaruh faktor psikologis. Serta mengetahui bagaimana kedua kondisi tersebut saling mempengaruhi baik dalam hal gejala maupun tata laksananya.

Ilustrasi Kasus

Pasien pria 28 tahun dikonsultasikan dari bagian Penyakit Dalam di unit rawat inap kepada saya di suatu RS. Ia mengatakan sudah menderita sakit kepala hebat sekurangnya empat tahun terakhir. Awalnya ringan, hanya dirasakan sesekali dalam satu bulan dan jika hendak kambuh, tandanya dapat dikenali pasien. Sakit bertambah parah bila pasien mengalami masalah pribadi atau tertekan secara mental meskipun pasien menyangkal adanya perasaan tidak nyaman dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Sejak tiga tahun yang lalu, pasien sudah berkeliling ke banyak dokter terutama spesialis syaraf namun tidak pernah ada yang bisa memberikan diagnosis pasti. Pasien yakin bahwa ada kelainan fisik di daerah kepalanya karena sakit terus memberat. Semakin lama sakit menyebar hingga ke seluruh kepala bagian kanan dan tidak bisa lagi dirasakan secara tepat di daerah mana paling berat. Kadang sakit dirasakan sangat berat hingga pasien meminta obat-obat penghilang rasa sakit dari rumah sakit baik obat minum hingga obat suntik. Jika sudah disuntik, pasien akan langsung tertidur dan ketika bangun, sakit sudah hilang dan pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Hal ini terus berlangsung dan semakin memberat hingga pasien tidak dapat lagi bekerja. Dua minggu sebelum dirawat, sakit dirasakan sangat hebat. Pasien tidak dapat lagi mengenali gejala kekambuhannya, sakit bisa tiba-tiba muncul begitu saja. Pasien sering menangis dan sering membenturkan kepalanya ke dinding karena tidak dapat menahan rasa sakit yang timbul. Obat suntik yang biasa digunakan juga sudah tidak mempan lagi. Sakit kepala juga berlangsung lama sekali, satu hingga dua jam. Jika sudah reda, pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Frekuensi dalam satu hari meningkat menjadi sangat sering sehingga pasien nyaris tidak bisa melakukan apa-apa. Sakit kepala bertambah berat bila pasien tertekan secara emosional. Hal ini menyebabkan rasa sedih dan kecemasan pada pasien.. Selama dirawat tetap terjadi kekambuhan walau sudah diberikan banyak obat. Hasil pemeriksaan dari bagian saraf, bagian mata, bagian penyakit dalam, pemeriksaan laboratorium dan MRI menunjukan hasil normal. Dari pemeriksaan psikiatrik terlihat adanya tanda-tanda depresi atipikal, kesulitan pengontrolan emosi, dan konflik yang berat dengan keluarga. Pasien kemudian mendapatkan terapi obat antidepresan dan psikoterapi selama beberapa waktu dengan fokus perbaikan mengatasi masalah. Perbaikan kemampuan coping dan kemampuan mengendalikan emosi sejalan dengan penurunan dari rasa sakit kepala yang diderita oleh pasien.

Apa itu nyeri psikogenik?
Nyeri psikogenik adalah nyeri yang dirasakan secara fisik yang timbulnya, derajat beratnya, dan lama berlangsungnya dipengaruhi oleh faktor mental, emosi, dan perilaku. Beberapa penelitian klinis menunjukan bahwa induksi nyeri secara sengaja pada seseorang akan memberikan hasil rasa nyeri yang tidak terlalu signifikan jika orang tersebut sedang berada dalam kondisi psikologis yang baik, tenang, damai, bahagia. Nyeri umumnya dirasakan lebih berat ketika seseorang mengalami gangguan psikiatri tertentu terutama depresi ataupun cemas.

Nyeri psikogenik yang murni psikologis umumnya ditandai dengan rasa nyeri yang menyebar, tidak terbatas pada suatu letak anatomis tertentu, dan tersebar pada banyak lokasi. Nyeri timbul tanpa adanya riwayat trauma fisik yang jelas sebelumnya atau timbul tanpa sebab. Pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga CT Scan, dan penunjang lainnya tidak dapat menunjukan adanya suatu masalah organ atau gangguan fisik tertentu. Nyeri tidak dapat hilang sepenuhnya atau seluruhnya walaupun sudah mendapatkan obat penghilang nyeri bahkan yang diberikan langsung ke dalam pembuluh darah (intra vena). Emosi dan motivasi merupakan isu pokok yang mendasari timbulnya nyeri.

Diagnosis
Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan neurologis dan psikiatrik secara menyeluruh. Diagnosis nyeri psikogenik harus didasarkan atas adanya faktor psikologis yang jelas yang berhubungan dengan rasa nyeri tersebut atau diketahui kondisi psikiatri yang jelas yang mungkin berhubungan dengan rasa nyeri. Jadi diagnosis tidak semata-mata ditegakan bila tidak ditemukannya dasar organik sebagai penyebab nyeri. Meski nyeri psikogenik juga dapat menyertai suatu sakit fisik yang nyata. Pasien yang sering mengeluhkan sakit kepala berulang atau sakit bagian tubuh lain berulang terutama ketika terdapat kondisi stres tertentu, banyak yang sebetulnya menderita nyeri psikogenik ini.

Penyebab
Di dalam ilmu psikiatri, nyeri psikogenik merupakan suatu mekanisme coping yaitu mekanisme adaptasi mental yang digunakan oleh seseorang dalam menghadapi masalah. Nyeri timbul akibat penekanan konflik psikis yang tidak dapat ditolerir. Penekanan konflik psikis ini memicu keluarnya hormon stres di dalam tubuh yang memicu perubahan sistem saraf otonom dan hormonal dalam tubuh. Pengaruh dari perubahan inilah yang pada akhirnya memicu timbulnya perasaan nyeri.

Nyeri psikogenik juga dapat merupakan gejala dari suatu gangguan psikiatri yang dinamakan kelompok gangguan somatisasi. Pada gangguan ini, nyeri muncul tanpa adanya gangguan sebenarnya pada tubuh. Jadi nyeri merupakan respon secara langsung dari konflik psikologis yang dipindahkan pada tubuh. Secara psikologis, penderita gangguan somatisasi lebih dapat menerima bahwa nyeri yang mereka rasa adalah problem fisik sementara rasa sakit yang mereka rasakan secara psikis disangkal dan dipindahkan pada tubuh.

Depresi dan cemas diketahui meningkatkan sensitifitas nyeri. Terutama pada penderita depresi lansia, sangat sering mengeluhkan berbagai problem fisik seperti sakit kepala. Pada pasien yang baru melewati operasi, beratnya gejala nyeri sudah dibuktikan bergantung dari derajat kecemasan pasien tersebut. Nyeri psikogenik yang ditemukan bersamaan dengan gangguan atau kondisi psikiatri tertentu harus dieksplorasi dengan lebih baik, selain untuk mencari penyebab dari nyeri, juga untuk menentukan tatalaksana yang tepat.

Stigma pada Nyeri Psikogenik
Para penderita nyeri psikogenik umumnya mengalami stigma baik dari kalangan medis sendiri maupun masyarakat umum. Mereka memandang bahwa rasa nyeri yang timbul dari konflik psikologis ini tidaklah nyata bila dibandingkan rasa nyeri yang timbul akibat kelainan organ atau fungsi anatomis dan fisiologis tubuh. Para penderita nyeri psikogenik sering dianggap berpura-pura dan akhirnya tidak diberikan penatalaksanaan yang tepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi ini menyebabkan tatalaksana tidak maksimal. Model biopsikososial menunjukan bahwa dalam terapinya, bukan hanya pasien saja yang menjadi fokus terapi namun lingkungan sosial dan keluarga inti perlu dilibatkan dalm proses terapi

Tatalaksana Nyeri Psikogenik
Tatalaksana nyeri psikogenik tidak dapat hanya mengandalkan pada terapi farmakologis semata-mata namun amat perlu ditunjang dengan tatalaksana secara non farmakologis. Terapi non farmakologis terutama terpusat pada psikoterapi yang lebih berorientasi pada psikodinamika pasien ataupun psikoterapi CBT. Hal ini disebabkan karena nyeri muncul akibat konflik-konflik psikologis yang tidak terselesaikan dengan baik.

Penanganan pasien dengan nyeri psikogenik, memerlukan ketelitian lebih dari dokter pemeriksa. Pasien dengan nyeri psikogenik biasanya akan ‘memaksa’ dokter untuk melakukan pemeriksaan medis berulang mulai dari pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang. Pasien akan terus berusaha mendapatkan penjelasan mengenai gejala-gejala yang dialaminya dan hal ini dapat membuat frustasi baik pasien sendiri maupun dokter pemeriksa. Pada kondisi yang berat, dapat terjadi kondisi di mana pasien akhirnya mendapatkan tindakan operatif berulang akibat nyeri yang dirasakannya yang sebetulnya tidak tepat. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor psikologis sebagai dasar dari kondisi nyeri tersebut.

Dalam tatalaksana juga sangat penting untuk tidak memberikan kesan pada pasien bahwa nyeri yang dirasakannya hanyalah “khayalan” semata dan dokter harus menunjukan empati bahwa rasa nyeri tersebut memang nyata. Tatalaksana nyeri lebih dipusatkan pada perbaikan mekanisme coping pasien. Bila nyeri psikogenik merupakan bagian dari suatu diagnosis psikiatrik tertentu maka terapi difokuskan pada kondisi psikiatrik utama yang menjadi sumber timbulnya rasa nyeri. Jika nyeri merupakan bagian dari kondisi depresi yang terselubung yaitu kondisi depresi tanpa ditemukannya gejala mood depresi dan gejala-gejala lainnya maka pemberian antidepresan akan menjadi terapi pilihan utama. Sedangkan dalam kondisi yang jarang, nyeri dapat juga dialami sebagai bagian dari gejala halusinasi pada psikotik maka pada kondisi ini, terapi farmakologis dengan antipsikotik menjadi pilihan yang utama.

One comment

Pesan Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s