Tidak Pernah Bahagia, Apakah Anda Distimia?

Suatu hari, saya menerima seorang pasien laki-laki berusia sekitar awal 30-an di ruang praktek saya. Ia mengeluh perasaannya yang tidak bahagia selama bertahun-tahun. Ia tidak menunjukan tanda-tanda depresi yang cukup nyata, masih dapat bekerja dan bersosialisasi, meskipun kadang mengalami gangguan makan, kadang insomnia atau tidur berlebih-lebihan (hipersomnia). Pekerjaannya sendiri tergolong sukses meskipun ia mengakui ia sering merasa cepat lelah dan akhir-akhir ini bertambah parah. Di usia muda, ia sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Ia berkonsultasi pada saya, ia mengatakan bahwa harusnya ia merasa bahagia dengan kondisinya namun mengapa ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia meminta saya untuk memberikan solusi atas perasaan tidak bahagia yang ia rasakan dan berharap bagaimana untuk dapat kembali bahagia dengan hidupnya.

Sebagai seorang dokter, saya memulai sesi terapi saya dengan mulai mencari diagnosis pada dirinya. Selain itu tentu saya harus menyingkirkan berbagai diagnosis banding yang mungkin pada keluhan utama pasien yaitu “merasa tidak bahagia”. Karena perasaan tidak bahagia biasanya bertautan erat dengan perasaan sedih maka yang saya lakukan pertama kali adalah mencari gejala-gejala depresi yang nyata pada pasien ini, mulai dari mood pasien, hingga fungsi vegetatif pasien seperti gangguan makan, tidur, dan bagaimana kondisi sosial dan pekerjaannya, apakah ada yang terganggu. Namun seperti yang saya posting di atas, ternyata pada pasien tidak ditemukan gejala-gejala depresi yang menonjol dan ia tetap dapat berfungsi cukup baik dalam lingkungan dan pekerjaannya. Kemudian saya mulai mencari apakah mungkin ada penyakit medis umum yang mungkin ia alami seperti gangguan fungsi tiroid (kelenjar gondok), diabetes melitus (sakit gula) menahun, dsb yang mungkin menimbulkan gejala depresi ringan dan juga riwayat penggunaan alkohol dan napza lainnya. Dan pada pasien ini tidak ada satupun riwayat gangguan medis dan penggunaan zat. Dan pada akhirnya saya mencari tanda-tanda kecemasan kronik pada pasien, namun hal ini pun tidak ditemukan. Akhirnya saya menegakan diagnosis distimia pada pasien ini.

Distimia apakah itu?
Distimia sebenarnya merupakan bagian dari cluster gangguan depresi namun derajatnya tidak berat. Satu-satunya gejala menonjol yang terlihat adalah mood yang cenderung murung, tidak bahagia yang menetap hampir setiap hari selama sekurangnya dua tahun. Gejala lainnya dalam cluster gejala depresi tidak terlihat menonjol, namun sekurang distimia juga dapat disertai dengan gangguan nafsu makan (naik atau turun), gangguan pola tidur (insomnia atau hipersomnia), energi yang berkurang, rasa cepat lelah mudah lesu, kurang percaya diri, sukar konsentrasi, dan sering merasa mudah putus asa.

Sifat gangguan ini kronis, menahun, dan masa bebas gejala tidak pernah sampai dengan dua bulan lamanya. Pada saat-saat tertentu sepanjang masa berlangsungnya distimia, orang yang menderita gangguan ini pun dapat mengalami gangguan depresi mayor. Anda dapat membacanya di sini. Bila mana timbul depresi mayor bersamaan dengan distimia, maka kondisi ini dikenal dengan istilah depresi ganda (double depression). Kebanyakan penderita distimia biasanya mengatakan mereka sudah merasa tidak bahagia sejak bertahun-tahun lampau, bahkan mereka sudah lupa kapan tepatnya kondisi ini dimulai.

Fakta-fakta penting soal distimia
Sekitar 6% orang di seluruh dunia berisiko mengalami gangguan ini di sepanjang hidupnya, sementara dari angka riil diketahui sekitar 5% orang di seluruh dunia menderita gangguan ini. Di Amerika serikat dari data IMH mereka, 1,5% penduduknya menderita gangguan ini. Website resmi WHO, badan kesehatan dunia menyebutkan bahwa hingga bulan Oktober 2012 terdapat 350 juta orang di seluruh dunia yang menderita depresi dalam derajat ringan hingga berat. Distimia pun termasuk di dalamnya. Hingga saat ini belum dapat disimpulkan apakah distimia terkait dengan faktor ras namun sudah diketahui bahwa distimia terkait dengan jenis gender di mana penderita wanita dua kali lipat dibandingkan pria dan umumnya penderita pria memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan wanita. Biasanya gangguan ini sudah mulai muncul sejak masa kanak, pasien umumnya akan bercerita bahwa sejak ia masih kecil atau sejak masa remaja, ia tidak pernah merasa bahagia. Hal yang cukup baik adalah, gangguan ini tidak pernah terjadi pada penderita gangguan bipolar dan gangguan psikotik.

Dampak distimia
Mengapa distimia harus dikenali dan diterapi dengan benar? Yang paling penting adalah karena seorang penderita distimia sangat rentan untuk jatuh dalam kondisi depresi mayor. Akibat lanjutannya adalah tingkat kemungkinan bunuh diri sangat meningkat. Menurut data WHO yang diambil sejak tahun 1950 hingga tahun 2000, tingkat kecenderungan bunuh diri cenderung menunjukan tren meningkat.

Meskipun dalam keseharian seorang penderita distimia biasanya “tidak menunjukan” gangguan yang nyata namun produktivitas seorang penderita distimia tidaklah sebaik seseorang dengan kondisi mood yang normal. Selain itu distimia yang ditandai dengan perasaan tidak bahagia ini, akan dipersepsikan sebagai stresor kronik di otak dan dampak jangka panjangnya sering meningkatkan risiko dan menimbulkan problema penyakit fisik serius seperti misalnya sakit jantung di kemudian hari. Anda dapat membaca artikel mengenai relasi antara stres dengan penyakit medis umum di sini.

Apakah penyebabnya?
Hingga saat ini belum jelas bagaimanakah distimia muncul. Namun yang jelas, seperti depresi, distimia mempengaruhi kadar neurotransmiter di otak. Secara biologi, terlihat bahwa orang dengan distimia menunjukan abnormalitas yang mirip dengan penderita depresi mayor bila dilakukan pemeriksaan EEG dan stres fisik, psikis menahun dapat menyebabkan distimia di masa depan. Secara genetik, distimia lebih sering dijumpai pada seseorang dengan keluarga yang mengidap gangguan depresi mayor dan sekitar 10% penderita distimia diketahui jatuh pada kondisi depresi mayor pada suatu saat dalam perjalanan distimianya. Secara psikososial, kondisi ini sering ditemukan pada orang-orang yang mengalami isolasi sosial.

Terapi
Distimia adalah kondisi yang dapat diterapi. Hingga saat ini metode utama adalah psikoterapi dan pemberian obat anti depresan. Umumnya psikoterapi utama yang dilakukan adalah berupa CBT (Cognitive Behavior Therapy) yang berfokus dalam mengubah mindset.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Bersahabat dengan stres

Jaman berubah, tuntutan hidup semakin tinggi, dan stres melanda. Stres saat ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak memilih usia, jenis kelamin, ataupun profesi. Oleh sebab itu dibandingkan mencoba menghindari atau memusuhi stres, mungkin lebih baik bila kita mengenali stres lebih dekat sehingga dapat mengatasinya. Dalam bidang medis telah dilakukan berbagai penelitian yang menyoroti kaitan antara daya tahan tubuh kita (sistem imun dalam tubuh) dengan kondisi stres secara psikologis. Bidang ini dikenal sebagai psikoimunoendokrinologi. Artikel ini diharapkan dapat membantu pembaca awam dalam memahami hal-hal terkait stres, dampaknya pada tubuh, hingga bagaimana mengatasi stres sederhana.

Apakah stres itu?
Sebetulnya apakah stres itu? Stres merupakan reaksi peringatan bahaya pada tubuh baik secara fisik maupun secara psikologis. Secara fisik stres umumnya bersifat objektif yaitu hampir sama untuk semua orang namun secara psikologis stres bersifat lebih subjektif yaitu tergantung persepsi masing-masing orang. Stres dalam kadar tertentu diperlukan oleh tubuh sehingga tubuh dapat berespon dengan benar untuk mengantisipasi bahaya. Respon ini dikenal sebagai respon “fight” (bertahan dan berjuang) atau “flight” (melarikan diri dari bahaya). Hal yang memicu timbulnya stres dikenal sebagai stresor.

Dalam kondisi stres baik psikis maupun fisik, otak akan memicu pengeluaran faktor stres. Faktor stres kemudian akan mempengaruhi beberapa kelenjar dalam tubuh untuk mengeluarkan hormon stres di dalam tubuh. Hormon stres ini diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan dan mempersiapkan suatu aksi tertentu untuk melindungi tubuh. Hormon stres yang banyak beredar di dalam tubuh bernama kortisol yaitu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar anak ginjal. Hormon stres kortisol akan memicu sistem persarafan simpatis yaitu sistem saraf yang bertanggung jawab dalam meningkatnya denyut jantung dan laju pernapasan, meningkatnya tekanan darah, relaksasi otot usus, membesarnya ukuran pupil mata, hingga meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh.

Reaksi stres

Dalam jangka waktu yang diperlukan, yaitu selama tubuh memerlukan untuk mempertahankan dirinya, reaksi stres ini diperlukan namun bila stres berlangsung dalam jangka waktu panjang dan dibiarkan terus berlangsung maka di sini dapat timbul masalah-masalah fisik dari taraf ringan sampai berat. Stres fisik umumnya hanya menimbulkan reaksi stres yang singkat karena biasanya lebih disadari sementara stres psikologis sering kali menimbulkan reaksi stres berkepanjangan karena biasanya lebih sulit disadari atau pada suatu waktu kemudian disangkal oleh yang mengalaminya. Sementara baik stres fisik maupun psikis tetap memicu reaksi stres di dalam tubuh itu tadi meskipun disangkal oleh yang mengalaminya.

Kerusakan atau gangguan fisik yang dapat timbul pada tubuh ini dapat bervariasi, mulai dari menurunnya sistem pertahanan tubuh hingga orang tersebut menjadi sangat mudah sakit, gangguan metabolisme di dalam tubuh, hingga penyakit serius seperti munculnya perdarahan di berbagai organ tubuh. Cukup banyak penelitian kedokteran menyebutkan korelasi yang kuat antara kondisi stres yang tinggi dan berkepanjangan dengan penyakit berat seperti jantung dan kanker.

Salah satu kondisi yang umum terjadi dan sering dikonsultasikan pada bagian psikiatri adalah orang-orang yang tekanan darah atau kadar gula darahnya terus-menerus tinggi meski sudah diberikan dan minum berbagai macam obat antihipertensi atau obat-obat diabetes.

Seberapa berbahaya stres yang tidak berusaha diatasi
Saya menulis artikel ini dengan harapan agar banyak orang tidak menyepelekan stres psikis dibandingkan problema fisik. Kasus ini saya tangani sendiri di salah satu rumah sakit swasta tempat saya bekerja dahulu. Suatu hari di bulan Februari tahun ini, saya mendapatkan konsul dari bangsal rawat inap Anak. Kasusnya adalah seorang anak remaja berusia 13 tahun, dirawat sudah 3 kali di rumah sakit dengan riwayat BAB berulang hingga kadar hemoglobin yaitu zat pengikat oksigen di darah sangat drop dan membahayakan pasien. Darah yang keluar sering berwarna hitam sehingga dokter anak yang merawat memperkirakan bahwa perdarahan berasal dari saluran cerna bagian atas (lambung). Sudah dilakukan berbagai pemeriksaan laboratorium, CT Scan area perut, dan berbagai pemeriksaan canggih lainnya namun hasilnya semua normal. Sudah diperiksakan juga ke bagian hematologi yang khusus menangani masalah pada darah dan hasilnya pun normal. Karena sudah putus asa, orang tua si anak kemudian minta kepada dokter anak yang merawat untuk konsul ke psikiater. Mereka merasa jangan-jangan ada kaitannya stres psikis dengan kondisi perdarahan yang terjadi pada anak mereka. Kasus perdarahan ini selalu berulang setiap si anak mengalami stres hebat di sekolah, entah mau ulangan kenaikan kelas, dan tes-tes lainnya. Akhirnya saya memeriksa pasien. Dari pemeriksaan terlihat sekali anak ini sangat pencemas, depresi atipikal, dan sangat perfeksionis dan dia terbiasa untuk bersikap tidak boleh gagal. Orang tuanya pun sangat menekankan mengenai prestasi belajar di sekolah dan sangat bersifat menuntut. Saya melakukan psikoterapi pada si anak dengan mengurangi sikap perfeksionistik serta penerimaan si anak terhadap kegagalan dan anti depresan rutin selama sekitar tujuh bulan. Pada orang tua pun saya menekankan pentingnya bersikap suportif, memodifikasi perilaku mereka untuk mengurangi sikap menekan dan menjadi stresor bagi si anak. Selama masa itu, terlihat perubahan cukup signifikan dan ketika musim ujian atau saat ia stres dengan kondisi lingkungan, si anak sudah tidak pernah lagi mengalami perdarahan sama sekali. Saya sendiri cukup banyak belajar dari kasus ini dan melihat betapa bahayanya stres yang dibiarkan berkelanjutan.

Cara sederhana berhadapan dengan stres
Baiklah, sebelum stres menyebabkan gangguan fisik maka ada baiknya kita belajar bagaimana mengatasi stres dengan cara-cara sederhana. Yang pertama bisa dilakukan adalah istirahat dengan teratur. Pada penelitian telah dibuktikan bahwa orang yang kurang istirahat cenderung lebih mudah stres dibandingkan orang yang cukup dalam istirahatnya. Yang kedua, mengembangkan sikap antisipasi, misalnya mempersiapkan diri untuk rapat dan liburan dengan benar atau hal-hal lainnya. Ketiga mengerjakan hobi, karena mengerjakan kegiatan yang disukai terbukti dapat memicu hormon endorfin di dalam tubuh dan hormon ini dapat menenangkan dan merilekskan tubuh secara alami.

Kapan perlu bantuan?
Mengatasi stres sebetulnya merupakan ketrampilan yang dapat dikembangkan oleh setiap orang dengan latihan dan pengalaman. Bila mana sudah mencoba mengatasi stres sendirian namun stres tetap berlangsung maka sebaiknya mencari orang lain untuk menceritakan problema kita karena penelitian menunjukan bercerita tentang masalah yang dihadapi dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan. Bila mana hal ini belum cukup maka barulah mencari bantuan profesional sebelum stres mengakibatkan gangguan fisik dan psikis. Kiranya artikel ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dan manfaat dalam mengenali dan menatalaksana stres.

Oleh: dr.Fransiska Irma,SpKJ

Kembali Aktif

Terima kasih atas para pengunjung yang sudah mau mampir ke blog ini. Maaf sekali karena kesibukan saya, sudah lama sekali blog ini terbengkalai. Banyak konsultasi yang terlewat saya jawab. Untuk menghindari terlewatnya konsultasi, bila mana mendesak dapat mengirimkan pertanyaan pada email pribadi saya di dr.fransiska@gmail.com. Namun mulai hari ini, blog ini akan kembali aktif. Saya harap blog ini dapat memberikan manfaat bagi para pengunjungnya. Masukan dan saran akan sangat saya hargai.

Salam,

dr.Irma,SpKJ

Nyeri Psikogenik

Nyeri sering dianggap hanya merupakan gejala sakit dan abnormalitas dari fungsi tubuh tertentu. Sebenarnya nyeri juga dapat timbul akibat konflik-konflik psikologis yang tak terselesaikan dengan baik yang dikenal sebagai nyeri psikogenik. Penelitian oleh para ahli di bidang psikosomatik menunjukan bahwa selain dipengaruhi oleh kondisi nyata gangguan fisik dan kondisi jiwa, nyeri juga terpengaruh kuat oleh kondisi emosi, fungsi kognitif, dan faktor-faktor sosial yang menimbulkan serta mempertahankan rasa nyeri. Penelitian juga menunjukan bahwa respon setiap orang sangat bervariasi dan sangat personal dalam menyikapi rasa nyeri. Penting untuk membedakan antara nyeri yang murni somatik (bersumber pada masalah fisik) dan nyeri yang terpengaruh faktor psikologis. Serta mengetahui bagaimana kedua kondisi tersebut saling mempengaruhi baik dalam hal gejala maupun tata laksananya.

Ilustrasi Kasus

Pasien pria 28 tahun dikonsultasikan dari bagian Penyakit Dalam di unit rawat inap kepada saya di suatu RS. Ia mengatakan sudah menderita sakit kepala hebat sekurangnya empat tahun terakhir. Awalnya ringan, hanya dirasakan sesekali dalam satu bulan dan jika hendak kambuh, tandanya dapat dikenali pasien. Sakit bertambah parah bila pasien mengalami masalah pribadi atau tertekan secara mental meskipun pasien menyangkal adanya perasaan tidak nyaman dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Sejak tiga tahun yang lalu, pasien sudah berkeliling ke banyak dokter terutama spesialis syaraf namun tidak pernah ada yang bisa memberikan diagnosis pasti. Pasien yakin bahwa ada kelainan fisik di daerah kepalanya karena sakit terus memberat. Semakin lama sakit menyebar hingga ke seluruh kepala bagian kanan dan tidak bisa lagi dirasakan secara tepat di daerah mana paling berat. Kadang sakit dirasakan sangat berat hingga pasien meminta obat-obat penghilang rasa sakit dari rumah sakit baik obat minum hingga obat suntik. Jika sudah disuntik, pasien akan langsung tertidur dan ketika bangun, sakit sudah hilang dan pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Hal ini terus berlangsung dan semakin memberat hingga pasien tidak dapat lagi bekerja. Dua minggu sebelum dirawat, sakit dirasakan sangat hebat. Pasien tidak dapat lagi mengenali gejala kekambuhannya, sakit bisa tiba-tiba muncul begitu saja. Pasien sering menangis dan sering membenturkan kepalanya ke dinding karena tidak dapat menahan rasa sakit yang timbul. Obat suntik yang biasa digunakan juga sudah tidak mempan lagi. Sakit kepala juga berlangsung lama sekali, satu hingga dua jam. Jika sudah reda, pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Frekuensi dalam satu hari meningkat menjadi sangat sering sehingga pasien nyaris tidak bisa melakukan apa-apa. Sakit kepala bertambah berat bila pasien tertekan secara emosional. Hal ini menyebabkan rasa sedih dan kecemasan pada pasien.. Selama dirawat tetap terjadi kekambuhan walau sudah diberikan banyak obat. Hasil pemeriksaan dari bagian saraf, bagian mata, bagian penyakit dalam, pemeriksaan laboratorium dan MRI menunjukan hasil normal. Dari pemeriksaan psikiatrik terlihat adanya tanda-tanda depresi atipikal, kesulitan pengontrolan emosi, dan konflik yang berat dengan keluarga. Pasien kemudian mendapatkan terapi obat antidepresan dan psikoterapi selama beberapa waktu dengan fokus perbaikan mengatasi masalah. Perbaikan kemampuan coping dan kemampuan mengendalikan emosi sejalan dengan penurunan dari rasa sakit kepala yang diderita oleh pasien.

Apa itu nyeri psikogenik?
Nyeri psikogenik adalah nyeri yang dirasakan secara fisik yang timbulnya, derajat beratnya, dan lama berlangsungnya dipengaruhi oleh faktor mental, emosi, dan perilaku. Beberapa penelitian klinis menunjukan bahwa induksi nyeri secara sengaja pada seseorang akan memberikan hasil rasa nyeri yang tidak terlalu signifikan jika orang tersebut sedang berada dalam kondisi psikologis yang baik, tenang, damai, bahagia. Nyeri umumnya dirasakan lebih berat ketika seseorang mengalami gangguan psikiatri tertentu terutama depresi ataupun cemas.

Nyeri psikogenik yang murni psikologis umumnya ditandai dengan rasa nyeri yang menyebar, tidak terbatas pada suatu letak anatomis tertentu, dan tersebar pada banyak lokasi. Nyeri timbul tanpa adanya riwayat trauma fisik yang jelas sebelumnya atau timbul tanpa sebab. Pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga CT Scan, dan penunjang lainnya tidak dapat menunjukan adanya suatu masalah organ atau gangguan fisik tertentu. Nyeri tidak dapat hilang sepenuhnya atau seluruhnya walaupun sudah mendapatkan obat penghilang nyeri bahkan yang diberikan langsung ke dalam pembuluh darah (intra vena). Emosi dan motivasi merupakan isu pokok yang mendasari timbulnya nyeri.

Diagnosis
Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan neurologis dan psikiatrik secara menyeluruh. Diagnosis nyeri psikogenik harus didasarkan atas adanya faktor psikologis yang jelas yang berhubungan dengan rasa nyeri tersebut atau diketahui kondisi psikiatri yang jelas yang mungkin berhubungan dengan rasa nyeri. Jadi diagnosis tidak semata-mata ditegakan bila tidak ditemukannya dasar organik sebagai penyebab nyeri. Meski nyeri psikogenik juga dapat menyertai suatu sakit fisik yang nyata. Pasien yang sering mengeluhkan sakit kepala berulang atau sakit bagian tubuh lain berulang terutama ketika terdapat kondisi stres tertentu, banyak yang sebetulnya menderita nyeri psikogenik ini.

Penyebab
Di dalam ilmu psikiatri, nyeri psikogenik merupakan suatu mekanisme coping yaitu mekanisme adaptasi mental yang digunakan oleh seseorang dalam menghadapi masalah. Nyeri timbul akibat penekanan konflik psikis yang tidak dapat ditolerir. Penekanan konflik psikis ini memicu keluarnya hormon stres di dalam tubuh yang memicu perubahan sistem saraf otonom dan hormonal dalam tubuh. Pengaruh dari perubahan inilah yang pada akhirnya memicu timbulnya perasaan nyeri.

Nyeri psikogenik juga dapat merupakan gejala dari suatu gangguan psikiatri yang dinamakan kelompok gangguan somatisasi. Pada gangguan ini, nyeri muncul tanpa adanya gangguan sebenarnya pada tubuh. Jadi nyeri merupakan respon secara langsung dari konflik psikologis yang dipindahkan pada tubuh. Secara psikologis, penderita gangguan somatisasi lebih dapat menerima bahwa nyeri yang mereka rasa adalah problem fisik sementara rasa sakit yang mereka rasakan secara psikis disangkal dan dipindahkan pada tubuh.

Depresi dan cemas diketahui meningkatkan sensitifitas nyeri. Terutama pada penderita depresi lansia, sangat sering mengeluhkan berbagai problem fisik seperti sakit kepala. Pada pasien yang baru melewati operasi, beratnya gejala nyeri sudah dibuktikan bergantung dari derajat kecemasan pasien tersebut. Nyeri psikogenik yang ditemukan bersamaan dengan gangguan atau kondisi psikiatri tertentu harus dieksplorasi dengan lebih baik, selain untuk mencari penyebab dari nyeri, juga untuk menentukan tatalaksana yang tepat.

Stigma pada Nyeri Psikogenik
Para penderita nyeri psikogenik umumnya mengalami stigma baik dari kalangan medis sendiri maupun masyarakat umum. Mereka memandang bahwa rasa nyeri yang timbul dari konflik psikologis ini tidaklah nyata bila dibandingkan rasa nyeri yang timbul akibat kelainan organ atau fungsi anatomis dan fisiologis tubuh. Para penderita nyeri psikogenik sering dianggap berpura-pura dan akhirnya tidak diberikan penatalaksanaan yang tepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi ini menyebabkan tatalaksana tidak maksimal. Model biopsikososial menunjukan bahwa dalam terapinya, bukan hanya pasien saja yang menjadi fokus terapi namun lingkungan sosial dan keluarga inti perlu dilibatkan dalm proses terapi

Tatalaksana Nyeri Psikogenik
Tatalaksana nyeri psikogenik tidak dapat hanya mengandalkan pada terapi farmakologis semata-mata namun amat perlu ditunjang dengan tatalaksana secara non farmakologis. Terapi non farmakologis terutama terpusat pada psikoterapi yang lebih berorientasi pada psikodinamika pasien ataupun psikoterapi CBT. Hal ini disebabkan karena nyeri muncul akibat konflik-konflik psikologis yang tidak terselesaikan dengan baik.

Penanganan pasien dengan nyeri psikogenik, memerlukan ketelitian lebih dari dokter pemeriksa. Pasien dengan nyeri psikogenik biasanya akan ‘memaksa’ dokter untuk melakukan pemeriksaan medis berulang mulai dari pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang. Pasien akan terus berusaha mendapatkan penjelasan mengenai gejala-gejala yang dialaminya dan hal ini dapat membuat frustasi baik pasien sendiri maupun dokter pemeriksa. Pada kondisi yang berat, dapat terjadi kondisi di mana pasien akhirnya mendapatkan tindakan operatif berulang akibat nyeri yang dirasakannya yang sebetulnya tidak tepat. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor psikologis sebagai dasar dari kondisi nyeri tersebut.

Dalam tatalaksana juga sangat penting untuk tidak memberikan kesan pada pasien bahwa nyeri yang dirasakannya hanyalah “khayalan” semata dan dokter harus menunjukan empati bahwa rasa nyeri tersebut memang nyata. Tatalaksana nyeri lebih dipusatkan pada perbaikan mekanisme coping pasien. Bila nyeri psikogenik merupakan bagian dari suatu diagnosis psikiatrik tertentu maka terapi difokuskan pada kondisi psikiatrik utama yang menjadi sumber timbulnya rasa nyeri. Jika nyeri merupakan bagian dari kondisi depresi yang terselubung yaitu kondisi depresi tanpa ditemukannya gejala mood depresi dan gejala-gejala lainnya maka pemberian antidepresan akan menjadi terapi pilihan utama. Sedangkan dalam kondisi yang jarang, nyeri dapat juga dialami sebagai bagian dari gejala halusinasi pada psikotik maka pada kondisi ini, terapi farmakologis dengan antipsikotik menjadi pilihan yang utama.

Gangguan Obsesif Kompulsif

Apa itu gangguan obsesif kompulsif?

Gangguan obsesif kompulsif termasuk dalam kelompok gangguan cemas. Obsesif sendiri merupakan suatu pikiran yang sifatnya berulang-ulang, sangat sulit untuk dikendalikan dan terus-menerus muncul di dalam pikiran penderitanya. Pikiran ini dapat hanya merupakan suatu bayangan atau keinginan melakukan sesuatu atau dapat juga berupa kalimat atau kata-kata. Sementara kompulsif adalah tindakan yang dilakukan untuk meredakan kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran obsesif sehingga kecemasan itu dapat dikurangi. Umumnya di awal masa gangguan, pasien masih mampu menangani pikiran tersebut dan menyadari bahwa pikiran obsesif yang dialaminya bersifat tidak berdasar sehingga biasanya pikiran tersebut berusaha ditekan atau dibiarkan saja namun bila mana akhirnya kecemasan yang ditimbulkan pikiran obsesif semakin meningkat, maka disitulah biasanya muncul suatu perilaku kompulsi.

Seorang pasien saya misalnya, terus-menerus menghitung tiang listrik sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor. Pikiran ingin menghitung tiang listrik merupakan pikiran obsesif dan ketika pasien saya kemudian mulai benar-benar menghitung maka di situ muncul perilaku kompulsif. Pasien saya yang lainnya perlu mencuci tangan hingga sekitar 20 kali atau lebih setiap melakukan sesuatu yang menurutnya dapat menyebabkan tangannya kotor dan bila mana tidak dilakukan dapat menimbulkan kecemasan luar biasa di dalam dirinya. Pikiran bahwa tangannya kotor adalah pikiran obsesif sementara perilaku mencuci tangan adalah perilaku kompulsif.

Mengapa akhirnya disebut gangguan? Karena pada taraf tertentu kondisi obsesif kompulsif yang dialami akhirnya dapat menyebabkan pasien mengalami gangguan dalam kegiatannya sehari-hari baik dalam bekerja, bersekolah, ataupun bersosialisasi. Sering pasien obsesif kompulsif juga kemudian menderita depresi berkepanjangan akibat merasa stres dengan kondisi yang dialaminya.

Banyaknya orang yang mengalami gangguan ini adalah sekitar 2 hingga 3 persen. Sering tertukar dengan kepribadian obsesif kompulsif. Pada pria biasanya gejala berawal di usia yang lebih muda dibandingkan pada wanita.


Apa yang menyebabkan?

Seperti gangguan psikiatri lainnya, faktor biopsikososial diduga menjadi penyebab timbulnya gangguan ini. Secara biologis gangguan ini diduga timbul akibat adanya sistem pengaturan neurotransmiter serotonin yang bermasalah (disregulasi serotonin). Hal ini dibuktikan terutama karena nyatanya gejala obsesif kompulsif dapat dikontrol dengan baik dengan pemberian obat anti depresan golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor). Selain itu terbukti bahwa pemberian obat memiliki efektivitas yang lebih unggul dibandingkan dengan metode terapi lainnya dalam mengatasi gangguan obsesif kompulsif.

Faktor lain yang diduga terkait dengan gangguan ini adalah faktor genetik dan psikososial. Pada faktor psikososial, diduga berkaitan dengan pembiasaan perilaku dalam mengatasi hal-hal yang sifatnya menimbulkan kecemasan. Diduga pula merupakan suatu mekanisme pertahanan mental dalam mengatasi hal-hal yang menimbulkan kecemasan.


Gejala klinis

Umumnya pasien datang dengan gambaran lengkap pikiran obsesif dan perilaku kompulsif namun ada pula pasien yang hanya mengalami salah satu dari gejala pikiran obsesif atau perilaku kompulsif. Pada beberapa pasien, dapat muncul perasaan malu yang luar biasa dengan kondisinya karena pikiran-pikiran yang muncul dapat berupa pikiran “terlarang” bagi pasien sendiri.

Terapi
Hingga saat ini pemberian obat antidepresan golongan SSRI masih menjadi pilihan terbaik. Pada beberapa kasus diperlukan kombinasi dengan obat antipsikotik untuk mengatasi gejala. Psikoterapi berupa terapi perilaku dapat membantu terutama dalam mengendalikan stresor ataupun menurunkan rasa malu yang timbul akibat kondisi sakit yang dialami.

Informasi pusat terapi gangguan obsesif kompulsif, silahkan klik di sini