Arsip Tanya Jawab Problema Kesehatan jiwa

PENGUMUMAN

Mohon maaf yang sebesarnya, terhitung per tanggal 7 November 2014 rubrik ini saya tutup karena kesibukan saya. Semua konsultasi yang masuk hingga tanggal 7 November 2014 masih akan saya jawab namun harap menunggu jawaban dengan sabar.

Arsip pertanyaan dan jawaban lama masih dapat Anda akses di halaman ini mengingat cukup banyak pertanyaan serupa yang diajukan di blog ini.

Untuk mendapatkan informasi dan membaca artikel kesehatan jiwa, Anda dapat mengunjungi http://pantirehabilitasi.com

35 comments

  1. Salam sehat Bu dokter Fransiska !

    Bu dokter, di kantor saya seluruh karyawan merasakan hal yang sama terhadap salah seorang anggota direksi yang rupa-rupanya ternyata juga tidak disukai di tempat kerjanya yang dulu. Beliau dianggap “cowboy” karena senang membuat suatu proyek yang tidak fokus, misalnya ia merencanakan proyek A tapi tidak pernah tuntas lalu tidak jadi dan bikin proyek B. Proyek B juga tidak jadi lalu pindah proyek C, begitu seterusnya dimana seluruh proyek tersebut sudah memakan biaya perusahaan yang tidak sedikit. Selain itu beliau sangat gemar membuat orang lain merasa sakit hati dengan mengatakan kata-kata yang tidak pantas dikatakan oleh seorang pimpinan dan mengatakan di depan orang banyak. Dia juga tidak peduli apakah anggota komisaris ataupun pemegang saham sekalipun suka dengan perkataan dia atau tidak, dan ia sudah membuat salah satu pemegang saham merasa sakit hati karena perkataan yang tidak pantas diucapkan, akibatnya perusahaan kami menanggung akibatnya.
    Pertanyaan saya adalah sebagai berikut :
    1. Adakah nama penyakit jiwa seperti ini?
    2. Di Indonesia, apakah pemilihan calon anggota Direksi (apalagi BUMN dan anak BUMN/atau anggota holding) sudah mengikutsertakan tidak hanya fit and proper test dari segi kepemimpinan, tetapi juga dari segi kesehatan jiwa? Saya melihatnya sangat perlu.

    Demikian, mohon pencerahannya.

    Terima kasih.

    1. Dear Pak Heinrich, maaf baru sempat balas pertanyaannya.
      1. Kalau melihat deskripsi bapak, saya lebih cenderung mengatakan bahwa direksi yang bapak maksud memiliki suatu ciri kepribadian tertentu (axis II psikiatri), namun bukan tergolong dalam gangguan jiwa (axis I psikiatri). Dan itu pun untuk memastikannya harus dilakukan suatu pemeriksaan psikiatri yang benar. Karena hampir tidak mungkin melakukan diagnosis psikiatri berdasarkan deskripsi singkat di atas.

      2. Untuk pemilihan caleg, anggota beberapa lembaga pemerintahan, penilaian kondisi psikiatri sudah dilakukan Pak namun masih sebatas pemeriksaan sederhana dan bukan wawancara mendalam. Sementara untuk pemilihan calon direksi BUMN saya tidak terlalu tahu kebijakannya seperti apa namun sepertinya belum ada kebijakan yang mengatur pelibatan psikiater untuk melakukan pemeriksaan dalam fit and proper test.

      Salam,

      dr.Irma

  2. dear dokter irma,

    saya ingin bertanya :

    1.apakah wajar dalam hubungan pacaran memiliki panggilan sayang (papah dan bunda)

    2. apakah salah dalam berpacaran pihak wanita terlalu mendominasi dalam berpakaian ( saya harus dituntu selalu rapi dalam bekerja atau jalan) sedangkan saya sendiri tipe pria yang cuek dan sedikit berantakan. apakah saya salah jdi diri sendiri dengan pakaian yg nyaman menurut saya ?

    3. kenapa akhir2 ini saya sering ribut dengan pacar karena hal kecil (pacaran 3th) ? sebelumnya tidak pernah ribut

    1. Dear Yudha, terima kasih pertanyaannya.

      1. Saling memanggil dengan panggilan sayang adalah hal yang sering terjadi dalam suatu hubungan emosional yang dekat. Baik itu berpacaran ataupun pernikahan. Sebagian orang membutuhkan panggilan sayang untuk membedakan hubungan emosional ini dengan hubungan yang dianggap biasa. Namun kembali pada pasangan apakah nyaman atau tidak menggunakan panggilan sayang ini.

      2. Kembali saya tidak dapat menjawab apakah salah atau tidak. Hal ini dikembalikan pada gaya berpacaran dan kepribadian ke-2 belah pihak. Orang-orang yang dependen misalnya akan lebih senang bila pasangannya mengatur segala sesuatu tentang dirinya termasuk misalnya gaya berpakaian. Namun ada sebagian orang yang justru merasa terbebani dan tidak nyaman dengan hal ini. Saran saya bila mana Yudha merasa tidak atau kurang nyaman, sebaiknya coba bicarakan dengan pasangan secara terbuka.

      3.Sering ribut bisa disebabkan oleh banyak hal tapi yang kerap terjadi pada suatu relasi adalah karena kekurangterbukaan antar pasangan. Umumnya pasangan berusaha menekan segala macam perbedaan di awal hubungan untuk menjaga kelanggengan namun bila mana hal ini tidak dibicarakan dan coba dikompromikan bersama maka suatu saat justru konflik ini dapat naik ke permukaan dan akhirnya menyebabkan sikap sering ribut tersebut. Hal-hal yang tadinya kecil, karena terlalu banyak yang ditekan akhirnya dipersepsikan sebagai sesuatu yang sangat menyinggung dan besar.

      Semoga jawaban saya membantu.

      Salam,

      dr.Irma

  3. Dear Bu dokter Irma, saya senang sekali menemukan blog ibu.

    Saya punya seorang kekasih Bu, kami menjalin hubungan dari bangku SMA. Dulu sewaktu sekolah dia selalu pindah2 sekolah, tiap masuk sekolah baru, dia hanya datang 2 atau 3 hari, setelah itu selalu drop-out hingga belasan kali. Dia juga memakai ganja dan ikut judi bola hingga rugi mengakibatkan hutang berjuta-juta.
    Awalnya saya dan keluarganya mengira dia learning disorder, krn dia sama sekali tdk bodoh, bahkan IQ-nya sgt tinggi dok. Walaupun sudah mencoba ke semua sekolah dgn berbagai sistem belajar tetap masih spt itu.
    Dia orang yg disenangi dan pandai bergaul, tapi terkadang dia menjauhi sosial dok. Dia spt memiliki dua kepribadian. Kadang dia humoris, romantis, sgt perhatian pada saya dan keluarganya, rajin beribadah, selalu bersemangat, sgt cerewet, dan nafsu makan. Tapi kadang dia menjadi pemarah, tdk makan, tidur berhari-hari, acuh tak acuh, menutup diri dan enggan berkomunikasi sekalipun dgn kami org terdekatnya, malah dia pernah bercerita kalau dia tak ada gunanya hidup dan ingin bunuh diri. Kondisi spt ini sudah terjadi bertahun2, jangka waktu perubahannya kadang dlm hitungan hari atau minggu. Tapi skrg sudah 2bulan dia depresi dok.

    Setelah saya membaca tulisan dokter ttg Bipolar, apa mungkin ada kemungkinan dia menderita penyakit tsb dok? Menurut yang saya baca dr berbagai sumber bipolar bisa makin parah antara usia 16-25 dok, saya takut kalau dia memang menderita penyakit ini atau mungkin penyakit jiwa lainnya dan tdk segera diobati, malah makin parah dan buruk akibat ke depannya dok. Mohon sarannya dok terimakasih🙂

  4. Dear Ms.Lee,

    Terima kasih atas pertanyaannya. Membaca cerita mengenai kekasih Ms.Lee saya merasa ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kondisi tersebut:
    1. Gangguan bipolar, pada penderita gangguan mood bipolar tipe campuran dapat terjadi mood yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Apa bila tipenya adalah rapid cycling maka kondisi moodnya tidak bertahan menetap utk jangka waktu lama namun justru berubah-ubah secara cepat sekali dari waktu ke waktu.

    2.Basicnya sebenarnya adalah depresi. Pada pria dewasa muda, depresi sering muncul justru bukan dalam bentuk rasa sedih berkepanjangan melainkan dalam bentuk perasaan marah dan emosional. Perasaan depresi ini justru sangat mengganggu dan diatasi dengan mencoba mengobati diri sendiri. Biasanya kemudian dengan minum obat-obat tergolong NAPZA.

    3. ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) atau gangguan pemusata perhatian dan hiperaktivitas. Orang-orang dengan ADHD ini sulit konsentrasi, sangat mudah bosan, cepat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, dan banyak sekali ang disertai dengan gangguan mood ntah depresi atau gejala menyerupai gangguan bipolar. ADHD merupakan gangguan menetap yang pada beberapa kasus dapat terus berlanjut hingga usia dewasa.

    Ke-3 gangguan di atas dapat menyebabkan seseorang melakukan self medication (mengobati diri sendiri), umumnya menjadi penggunan NAPZA. Yang depresi cenderung menjadi pengguna golongan stimulan seperti ecstasy dan heroin. Sementara gangguan seperti ADHD biasanya akan mencari obat-obat yang menenangkan. NAPZA jenis apapun itu pada nyatanya akan mengganggu keseimbangan sistem neurotransmitter di otak dan suatu saat akan menyebabkan kerusakan pada otak dan sistem regulasinya.

    Saya sangat menyarankan agar kekasih Ms.Lee segera mencari pertolongan pada psikiater terdekat. Hal ini perlu selain untuk menangani kondisi depresi yang sudah cukup berat saat ini, kekasih Ms.Lee juga perlu mendapatkan terapi yang benar. Terapi yang benar dan tepat tentu baru didapatkan bila mana diagnosis ditegakan secara benar. Selain itu terapi kemudian nantinya perlu dilanjutkan dengan psikoterapi dengan fokus terutama memperbaiki mekanisme coping (mekanisme adaptasi terhadap masalah). Semoga jawaban saya membantu.

    Salam,

    dr.Irma

  5. dok, saya sonia dari jkt. ayah saya (64) 2 minggu lalu smpat hilang ksdaran akibat hiperglikemia. setelah sadar (hampir 48 jam kmudian) beliau masuk fase yg mnurut dokter kami dsebut delirium yaitu meracau, perhatian rendah, malas2an, kata2 trtukar2 dsb. doktr kami tidak (atau tidak mau) menjelaskan apa yg harusnya kami sbg keluarga lakukan. pertanyaan saya, apakah delirium ini bs pulih? skarang kadar gula sudah normal ttapi meracau nya masih sering muncul sehingga kami bingung. Sampai brp lama ini brlangsung? trima kasih

  6. Dear Ibu Sonia, delirium adalah kondisi di mana status mental seseorang berubah dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh suatu kondisi organik tertentu. Yang saya maksud dengan kondisi organik adalah masalah fisik kesehatan, pada kasus ayah ibu hal ini berupa kondisi hiperglikemik. Kondisi delirium dapat menyebabkan berbagai bentuk tampilan gejala psikiatri, misalnya dapat timbul halusinasi yang biasanya bentuknya halusinasi visual (lihat), perubahan fungsi kognitif yang khas ditandai dengan kesulitan memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian serta sering timbul disorientasi waktu dan tempat, lebih jarang disorientasi orang. Tampilan klinis yang terutama terlihat adalah meracau dan dapat timbul sikap bingung pada pasien. Biasanya pasien akan kacau pada malam hari dan lebih baik pada saat pagi hari. Keluarga pasien saya biasanya akan mengatakan “kalau siang nyambung dok, tapi kalau malam jadi kacau lagi”. Hal ini terkait dengan irama sikardian dari tubuh. Semoga sekelumit info tentang delirium tersebut cukup dapat menjelaskan.

    1. Apakah delirium dapat pulih? Delirium pasti pulih bila mana kondisi organiknya teratasi, karena gangguan ini sifatnya sementara. Namun memang pada lansia biasanya kondisi delirium dapat memanjang meskipun kondisi organik sudah teratasi. Selama masih delirium, sangat penting tetap dirawat di RS dan dibawah pengawasan dokter.

    2. Pulihnya berapa lama, saya tidak dapat memastikan. Namun beberapa dapat menetap hingga 2 minggu sampai 1 bulan lamanya meski kondisi organiknya sendiri sudah oke. Apalagi bilamana sebelumnya sudah ada riwayat pikun atau demensia.

    Jadi apa yang harus dilakukan keluarga:
    1. Usahakan minimalisir stimulus di sekitar ayah Ibu. Yang saya maksud dgn stimulus adalah suara, keramaian, dsb. Stimulus yang terlalu banyak dapat menyebabkan delirium semakin memanjang.

    2. Bila mana ada gangguan orientasi maka lakukan reorientasi. Ketika ayah terlihat kontaknya cukup baik saat diajak bicara, ingatkan soal sedang ada di mana, hari apa, pagi atau malam, dsb.

    3. Sangat tidak disarankan untuk berganti-ganti ruangan. Pindah-pindah ruangan dapat menyebabkan kondisi kebingungan semakin bertambah parah.

    Semoga jawaban saya membantu.

    Salam,

    dr.Irma

  7. dok maaf ada yg saya lupa tanyakan, sbenarnya bberapa hr yg lalu ayah smpat sudah beratensi penuh, tetapi karena agak batuk dokter kami mresepkan ciprofloxacin. dari beberapa jurnal medis yg saya baca ada yg mnyebutkan obat ini memicu/memperparah delirium. apakah itu benar? sekarang obatny diganti cefadroxyl, apakah efek sampingnya sama?

  8. Dear Ibu Sonia,

    ada beberapa golongan obat yang diduga dapat mencetuskan delirium terutama pada kelompok lansia. Salah satunya golongan antibiotik yang tergolong dalam golongan Fluoroquinolones, ciprofloxacin adalah salah satu antibiotik yang termasuk dalam golongan fluoroquinolon tersebut. Golongan antibiotik yang diduga dapat mencetuskan lainnya adalah cephalosporin, penicilin, macrolid, sulfonamid, aminoglikosida, amphotericin-B. Cefadroxil sendiri tergolong ke dalam golongan obat cephalosporin Meskipun obat-obat antibiotik tadi diduga terkait dengan delirium namun hingga saat ini belum terlalu jelas mekanisme terjadinya sehingga digolongkan sebagai low-risk medication terkait delirium. Hal ini karena pada kelompok usia muda, lebih jarang terjadi kasusnya dibandingkan kelompok lansia.

    Delirium sendiri terjadi karena perubahan keseimbangan neurotransmitter di otak. Dapat meliputi dopamin, serotonin, acetilkolin, hingga GABA. Jadi sebetulnya terutama obat-obat yang memanipulasi sistem saraf pusat lah yang dapat mencetuskan delirium. Misalnya obat hipnotik sedatif yang sering diberikan di rumah sakit untuk membantu tidur atau mengurangi kecemasan.

    Saran saya coba diskusikan kembali pada dokter yang merawat ayah Ibu, terutama mengenai pemilihan obat. Meskipun memang ada obat-obat yang dapat mencetuskan delirium namun pada kondisi ayah Ibu kemungkinan besar delirium dicetuskan oleh kondisi hiperglikemik dan mengingat faktor usia, maka kemudian delirium lebih lama pulihnya. Dan mengingat saat ini ayah Ibu sedang dirawat di RS, kemungkinan menderita infeksi dapat menjadi lebih besar.

    Tanyakanlah pada dokter ayah Ibu, kepentingan pemberian obat-obat yang diberikan. Saya rasa dokter yang merawat tentu lebih mengerti mengenai tatalaksana terbaik bagi pasien. Terkadang meskipun ada risiko efek samping pada pemberian suatu obat, dokter tetap perlu memberikannya karena memang situasinya sangat perlu atau tidak ada obat pengganti yang efek samping lebih minimal atau kalaupun efek terapinya ternyata lebih rendah. Dalam pemberian setiap obat, umumnya dokter pasti akan mempertimbangkan faktor risk and benefit pada pasien tersebut.

    Semoga membantu.

    Salam,

    dr.Irma

  9. Dokter, saya punya pertanyaan seputar pendidikan psikologi di Indonesia. Saya lulusan salah satu college di Amerika dengan gelar Bachelor of Arts in Psychology. Saya berencana melanjutkan studi saya untuk mendapatkan gelar Master of Arts di bidang Clinical Psychology di Amerika dan hopefully, bisa melanjutkan sampai gelar PhD di negara yang sama. Masalahnya, saya berencana untuk membuka semacam sekolah sekaligus klinik untuk children with disabilities seperti autism di Indonesia setelah lulus nanti. Baru-baru ini saya mendengar bahwa lulusan Amerika tidak bisa mendapatkan license untuk membuka praktek sebagai Psychologist di Indonesia. Apa benar? Jika iya, apa yang bisa saya lakukan supaya bisa mendapatkan license tersebut? Apa ada option lain yang bisa saya lakukan tanpa mengorbankan gelar M.A atau PhD dan license untuk bisa jadi psychologist di Indonesia? Tolong saya dok, saya benar-benar bingung dan hampir putus asa kalau tidak bisa pulang Indonesia lagi karena gelar saya tidak diakui disini..Terimakasih perhatiannya.

    1. Dear Lost and Hopeless,

      Mohon maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda mengingat saya tidak memahami regulasi peraturan untuk praktek di bidang psikologi. Mohon mengirimkan email pribadi Anda ke email saya di dr.fransiska@gmail.com. Akan saya forwardkan email Anda pada seorang kenalan saya yang saat ini sedang studi PhD psikologi dari salah satu universitas di LN. Mungkin beliau dapat membantu menjawab.

      Salam,

      dr.Irma

  10. salam kenal dok, saya anggi di yogya,,
    saya pengidap social phobia dok, saya pernah ke psikiater dan dikasih obat penenang, namun setelah obat habis saya belum konsul lagi karena saya takut ketergantungan.

    saya ingin bertanya tentang beta blocker seperti propanolol, saya pernah baca bahwa selain obat hipertensi, obat itu juga dapat membantu dalam situasi cemas sebelum tampil, seperti berbicara didepan banyak orang. bolehkah saya menggunakan propanolol hanya pada saat2 tertentu seperti itu saja ? kalo memang boleh, berapa dosis yang harus saya gunakan sekali minum ? karena katanya obat itu bisa dibeli bebas tanpa resep, tidak seperti obat penenang.

    saya bukan penderita hipertensi, namun denyut jantung saya memang cenderung cepat, saat phobia saya kumat bisa lebih dari 120 denyut permenit, karena itu saya sering jadi sesak nafas.

    terima kasih banyak sebelumnya dok,,

    1. Dear Mba Anggi,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Mohon maaf sekali karena saya baru balas sekarang. Penggunaan obat beta blocker tentu boleh selama indikasinya tepat. Tapi saya sangat tidak menyarankan bila digunakan dan diatur sendiri dosisnya. Supervisi oleh dokter tetap diperlukan, apapun jenis obatnya mengingat segi farmako dinamik dan farmako kinetik obat dalam tubuh termasuk juga interaksi obat dan efek sampingnya. Mohon maaf, saya tidak dapat mencantumkan dosis di blog ini mengingat hal tersebut akan bertentangan dengan kode etik kedokteran.
      Saran saya pergilah kembali ke psikiater mba dan konsultasikan mengenai keinginan menggunakan beta blocker untuk menangani fobia sosial. Pilihan terapi sendiri adalah hak pasien juga yang tentunya mendukung kesuksesan terapi.

      Semoga jawaban ini membantu.

      Salam,

      dr.Irma

  11. Dear dokter Irma,

    Beberapa hari yg lalu sy melakukan tes MMPI2 di sebuah perusahaan untuk penjaringan calon karyawan. Ternyata, setelah tes, saya mendapatkan website yg menyediakan tes yang sama namun dalam bahasa inggris dan dapat dilihat scorenya. Disna disebutkan skala L: 66,F;44,dan K;65.
    Hal yang mau saya tanyakan adalah apakah nilai skala yg saya dapatkan tersebut valid dan saya dpt lolos tes tersebut?
    Karna ada bbrp artikel yg menyebutkan T>65 menunjukkan ketidakvalidan profil.
    Demikian pertanyaan saya, mohon pencerahannya.Terima kasih

    1. Dear Mba Mala,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Mohon maaf sekali karena saya baru dapat membalas sekarang.Mohon maaf sekali, terkait dengan hasil MMPI mba Mala, saya tidak dapat memberikan interpretasinya di blog ini mengingat saya tidak melihat grafiknya. Apalagi sifat tes MMPI yang tidak akan mungkin sama persis hasilnya meski dilakukan dalam hari yang sama oleh orang yang sama. Namun secara umum betul apa yang Mba Mala baca pada beberapa artikel bahwa nilai T>65 umumnya tidak valid. Saran yang mungkin dapat saya berikan, bila mana mengerjakan MMPI yang sebaiknya dilakukan adalah tidak memikirkan dan menimbang-nimbang jawaban mana yang terlihat lebih baik. Namun jawablah secara cepat sesuai dengan apa yang terpikir pertama kali. Hal ini akan memberikan gambaran kepribadian yang sebenarnya dengan skala kevalid-annya akan menjadi tinggi.

      Semoga jawaban saya membantu.

      Salam,

      dr.irma

  12. Dear bu dokter,

    Saya mau tanya gejala yang terjadi sama saya, kenapa yah saya sering ngerasa ada halusinasi “seperti ada sesuatu dipikiran saya yang menggangu dan mengintimidasi saya, yang tepatnya saya tidak tau itu apa, tapi saya sebut aja itu iblis,..hehe aneh ya bu, dan sering kali aku ngerasa si “oknum ini sering mempengaruhi aku untuk bicara hal yang tidak baik dihati dan abis itu aku jadi ngerasa bersalah, tapi saya juga sering berusaha ngelawan pengaruh-pengaruh ga jelas itu, sampe aku kadang jadi cape mikir dan lebih milih tidur.

    aku juga sering ngerasa cemas dan takut terjadi hal-hal yang buruk tentang apa aja sih.
    kadang-kadang juga aku jadi agresif kalo lagi suntuk tiba-tiba dapet kerjaan mendadak padahal aku orang nya ramah bu.
    sekali-kali aku orangnya bisa cuekin pekerjaan dan lebih milih buang-buang waktu ga jelas.
    kadang juga kalo lagi ga tenang aku lebih milih sendiri sampe aku bener-bener tenang.
    aku juga sering ngerasa bersalah berlebihan kalo gagal ngerjain tugas ato project.

    buat tambahan aja aku laki-laki, sekarang usia 26 tahun, single, dan punya adik 2, dan aku punya track record ga bagus soal keluargaku. papah aku meninggalnya ditembak dan mamah ku meninggalnya tertabrak, kadang pikiran itu juga sering menggangu dan bikin aku nyesel ga bisa ngerubah semuanya.

    baik, sekian aja curhatnya bu dokter, hehe kira-kira ada solusi untuk masalahku??

    terima kasih,

    Salam

    1. Dear By,

      Maaf sekali karena saya baru dapat membalas pertanyaannya saat ini. Semoga jawaban saya ini tidak terlambat. Saya cukup prihatin membaca apa yang By alami dan rasakan, semoga tidak sampai lebih berat dibandingkan bulan Oktober lalu.

      Saya akan mengutip sedikit beberapa bagian dari pertanyaan By untuk mempermudah pengertian.

      “seperti ada sesuatu dipikiran saya yang menggangu dan mengintimidasi saya, yang tepatnya saya tidak tau itu apa, tapi saya sebut aja itu iblis,..hehe aneh ya bu, dan sering kali aku ngerasa si oknum ini sering mempengaruhi aku untuk bicara hal yang tidak baik dihati”
      Pikiran yang By tuliskan di atas sangat mungkin merupakan gejala yang dikenal sebagai thought insertion atau dalam bahasa Indonesianya, diistilahkan sebagai sisip pikir. Pada kondisi ini, seolah-olah ada pikiran yang masuk dari luar dan pikiran ini adalah pikiran yang asing, bukan pikiran dari diri sendiri. Thought insertion tidak dapat dikendalikan oleh yang mengalaminya sehingga akan sangat mengganggu dan mempengaruhi dalam keseharian termasuk mempengaruhi emosi dan perilaku. Tapi tetap saya bilang hal inilah yang mungkin dialami By, karena saya tidak melakukan pemeriksaan pada By secara langsung.

      Bila mana benar apa yang dialami By merupakan thought insertion, gejala ini termasuk dalam gejala psikotik yang timbul karena secara medis terjadi perubahan sistem dopamin di otak dan secara psikologis umumnya akibat stresor psikososial (meskipun kadang-kadang tidak ada) dan mekanisme pertahanan mental seseorang.

      Saran saya, sebaiknya By segera mencari pertolongan pada dokter psikiater terdekat karena thought insertion dapat dihilangkan dengan obat-obat antipsikotik. Selain itu tentu juga By memerlukan psikoterapi.

      Salam,

      dr.Irma

  13. Dear Bu dr. Irma,

    Saya pemuda berumur 24 tahun. Dalam waktu dekat ini saya akan menghadapi test psikiatri dari salah satu instansi pemerintah. Dari contoh pertanyaan test psikiatri yang saya cari tahu di internet, saya menemukan bahwa diperlukan kejujuran dan konsistensi dalam menjawab pertanyaannya. Saya dulu seorang yg mudah stres, cemas, sulit tidur, memiliki emosi yg kadang tak terkontrol dan beberapa masalah kejiwaan lainnya. Hal itu terjadi karena saya pernah mengalami kegagalan sehingga saya merasa semangat saya jatuh dan kehilangan harapan, namun sekarang setelah mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa saya bisa lebih mensyukuri hidup ini dan bisa bangkit kembali. Yang mau saya tanyakan Dok,

    1. Apa sih pengertian test psikiatri itu?
    2. Bagaimana tips untuk menjawab test psikiatri agar lulus?
    3. Apakah saya harus jujur menjawab sesuai dengan keadaan saya yg dulu ataukah saya menjawab sesuai dengan keadaan saya sekarang? Mengingat bahwa test psikiatri ini adalah tahap terakhir test dan jika lulus maka saya tinggal diinterview oleh user dan kemungkinan besar akan lulus. Saya takut bu jika saya menjawab sesuai dengan keadaan saya yg dulu maka saya tidak lulus, tp jika saya menjawab sesuai dengan keadaan saya sekarang nanti hasilnya jadi tidak konsisten. Bagaimana mengatasi dilema ini bu?

    Mohon sarannya Dok, terimakasih..

    1. Dear Parasian,

      Mohon maaf karena saya baru membalas pertanyaannya karena kesibukan saya.

      Saya senang membaca bahwa saat ini Parasian sudah bisa lebih mensyukuri hidup dan sudah bangkit kembali. Namun tentunya menghadapi suatu tes, tetap saja dapat menimbulkan perasaan cemas apalagi hal tersebut terkait dengan melamar pekerjaan.
      Baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Parasian.

      1. Apa sih pengertian test psikiatri itu?
      Tes psikiatri terkait dengan seleksi jabatan, umumnya akan terdiri dari dua fase, Tes MMPI untuk melihat kondisi psikologis seseorang pada suatu saat tertentu dan wawancara psikiatri. Namun kadang-kadang yang dilakukan hanya tes MMPI aja.

      2. Bagaimana tips untuk menjawab test psikiatri agar lulus?
      Bila pemeriksaan yang dilakukan adalah tes MMPI maka jawablah sesuai dengan apa yang terpikir pertama kali. Jangan pernah memikir dan menimbang-nimbang jawaban mana yang akan membuat terlihat lebih baik karena hal ini justru akan membuat hasil pemeriksaan tidak konsisten dan akhirnya tidak valid.

      3. Apakah saya harus jujur menjawab sesuai dengan keadaan saya yg dulu ataukah saya menjawab sesuai dengan keadaan saya sekarang?
      Parasian, jawablah tes dengan kondisi saat ini dan bukan yang dulu. Justru Parasian melakukan hal yang jujur dengan begitu. Tes MMPI adalah tes yang sifatnya here and now. Yang dinilai adalah kondisi saat melakukan tes dan bukan kondisi beberapa hari, minggu, atau bulan sebelumnya.

      Oleh para psikiater sendiri, tes ini terkadang seperti tes laboratorium namun bukan fisik yang diperiksa. Kami terkadang menggunakannya untuk menilai kemajuan terapi pada pasien kami.

      Semoga sukses dalam interviewnya.

      Salam,

      dr.Irma

  14. Salam Dok,
    Saya punya beberapa pertanyaan,

    Kapankah kita membutuhkan psikiater, dok?
    Saya seorang pemuda, 22 tahun, mahasiswa salah satu institut di Bandung.
    November tahun lalu, saya sempat datang ke psikiater atas keputusan saya sendiri, karena pada waktu itu saya mengalami sedih berkepanjangan dan banyak pikiran untuk bunuh diri. Psikiater pertama meresepkan fluoxetine dan ikalep. Karena merasa kurang nyaman dengan dokter tersebut saya mencari psikiater lain, bersama dokter baru ini saya menjalani terapi selama 5 bulan-an, saya diberi tambahan obat baru (beberapa adalah alprazolam, risperidone, dll) hingga pada bulan kelima saya merasa muak dengan obat dan akhirnya berhenti konsultasi dan mengkonsumsi obat (berhenti secara langsung, cold turkey).

    Saat itu saya merasa akan baik-baik saja tanpa obat.
    Tapi ternyata, semua runtuh kembali.
    Saya merasa jatuh kembali pada lubang yang sama, saya menjauhi lingkungan kampus, kewajiban akademis saya terbengkalai (saya sudah tidak masuk kuliah sebulan lebih). Saya merasa sangat gagal dan merasa tidak punya harapan, saya merasa hanya jadi beban di keluarga. Pikiran untuk mengakhiri hidup seringkali muncul kembali, apalagi saat malam -sejak SMA saya sering susah tidur- dan sudah sebulan lebih saya mengkonsumsi diphenhydramine, agar relaks dan mudah tidur. Saya bingung dok. Apa saya depresi? Atau hanya melebih-lebihkan? Apa saya butuh psikiater?

    1. Dear narasendja,

      Maaf sekali karena jawaban saya ini mungkin terlambat akibat terbengkalainya blog ini karena kesibukan saya. Saya baru sempat membalas pertanyaan-pertanyaan yang masuk hari ini. Nara, melihat kondisi Nara ada baiknya kembalilah kontrol ke psikiater Nara. Untuk pulih dari gangguan depresi yang dialami memang perlu waktu. Umumnya terapi optimal dengan obat memerlukan waktu minum teratur selama 6 bulan hingga 1 tahun lamanya. Baru obat dapat dicoba dihentikan. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Memang untuk terapi dengan obat diperlukan semangat dan keteraturan untuk minum obat dalam jangka waktu cukup panjang Nara.

      Salam,

      dr.Irma

  15. Dear dr. Irma,

    Saya mau konsultasi sebentar. Saya Erkan, pria berusia 25 tahun. Saya sering sekali mengkhayal. Sedari kecil malah. Walaupun saya sedang bekerja, menonton, atau melakukan aktifitas yang lain, kepala saya terus berimajinasi tanpa batas dan tanpa bisa saya kendalikan.

    Terkadang saya berkeinginan agar saya dilahirkan kembali ke jaman perang salib, jaman penjelajahan dunia abad ke 10, ataupun terlibat dalam perang para samurai di Jepang. Saya bisa berkeliling dunia, meninggalkan istri dan anak, dan berpetualang melawan monster dan penjahat. Kadang juga setelah menonton film, baca novel/komik, atau mendengarkan musik, saya seperti terlarut menjadi tokoh utama yang diceritakan. Atau ketika saya mesti merencanakan sesuatu, maka saya akan memikirkannya sampai ke detail terkecil, semuanya bercabang-cabang seprti akar, membentuk segala kemungkinan dan rencana yang akan saya lakukan. Dan terkadang saya gelisah kalau-kalau rencana ini tidak berhasil.

    Tapi saya sadar kalau itu cuma khalayan dan imajinasi saya dok. Saya belum menunjukkan tanda-tanda halusinasi atau delusi. Yang ingin saya tanyakan, apakah ini berbahaya dok? Apakah saya kelebihan dopamin, dan dapat menimbulkan gejala skizofrenia? Ataukah ini hanya murni imajinasi saya saja?

    Terima kasih atas kesediannya menjawab pertanyaan saya dok. Jika berkenan anda bisa membalas saya, saya ucapkan banyak terima kasih,

    1. Dear Erkan,

      Maaf sekali karena jawaban saya ini mungkin terlambat akibat terbengkalainya blog ini karena kesibukan saya. Saya baru sempat membalas pertanyaan-pertanyaan yang masuk hari ini. Mengkhayal adalah salah satu jenis mekanisme pertahanan mental yang banyak dilakukan oleh banyak orang. Seperti yang sudah Erkan tuliskan, bila mana kondisi mengkhayal tidak sampai menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari sebetulnya hal ini masih relatif normal. Bisa saja memang Erkan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Perlu menjadi perhatian bila mana akibat mengkhayal, kemudian sampai sulit bekerja dan beraktivitas sehari-hari.

      Salam,

      dr.irma

  16. Salam bu dokter..
    Gini bu saya mau menanyakan,,” adik saya udah setahun belakang ini sllu mengkonsumsi obat ikalep,,di karenakan adik saya suka marah” dan suka pengen jalan” terus,,saya udah kasihan sama adik saya,,suka tiba” marah tanpa sebab apapun,,setelah minum obat ikalep,,dia biasa lagi tapi tidur,,apakah efek samping dari obat ikalep bisa membahayakan otak sarafnya ?

    1. Dear Dida,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Mengenai Ikalep sendiri adalah nama dagang untuk obat bernama asam valproat. Obat ini biasanya digunakan sebagai anti kejang pada epilepsi atau penstabil mood yang labil pada gangguan bipolar. Yang pertama perlu diperhatikan adalah dari mana adik Dida mendapatkan obat tersebut. Bila mana obat diberikan oleh seorang dokter psikiater, tentu tidak apa-apa karena dokter tentu meresepkan sesuai dengan indikasi dan kondisi adik Dida berdasarkan hasil pemeriksaan. Namun bila mana karena obat tersebut adik Dida cenderung banyak tidur, ada baiknya kembali pada psikiater yang bersangkutan dan mendiskusikan kembali pilihan terapi yang tepat bagi adik Dida.

      Salam,

      dr.Irma

  17. Salam kenal dok.
    Saya Retha dari jawa tengah, Sy ibu dari 3 anak, 5,5th, 4th, dan 14 bln. Dekatnya jarakj antar ke3 anak ini kadang membuat sy bingung untuk memberikan perhatian. Setiap mau tidur (ntah siang atau malam), sy selalu uring-uringan terutama dgn si sulung karena sulit sekali untuk mengikuti peraturan untuk tidur siang (kalau tidak tidur, tidak boleh main keluar). kalaupun dia merebahkan badannya, ada saja tingkahnya untuk mengganggu adik2nya. Sy safar bahwa ini adalah salah satu cara untuk meminta perhatian dr ibunya, Tapi, terkadang pula, saat saya mendahulukan dia, ada saja tingkahnya yg tidak pas. Misalnya malah bolak-balik di tempat tidur, buat suara gak jelas. Dan ini tentu saja membuat saya terpancing emosi, yg notabene sudah sangat capek berurusan dgn kegiatan rumah tangga. Malam ini pun, dia seharusnya tidur duluan (karena tiidak tidur siang), yg ada malah bertengkar dgn kami berdua. saya berusaha sabar dan mengajukan pertanyaan, maunya apa. yg ada si sulung malah memukul-mukulkan kakinya ke bed dan tidak menjawab pertanyaan. akhir-akhir ini juga ditambah dgn aksi menjerit. ayahnya yg cenderung lebih emosian, merasa tidak terima dgn cara si sulung menanggapi ibunya, gantian yg marah.
    Intinya adalah, tiada hari tanpa ancaman sebelum tidur. Sy sadar bahwa ini sangat tidak baik dgn perkembangan mental si anak, tidur dengan ketidaknyamanan. akan tetapi saat kita berhadapan dgn konsistensi dan disiplin, saya jadi bingung.
    Sy juga melihat, bahwa si sulung menjad tidak tenang tidurnya, memukulkan ke2 kakinya, mudah nangis dan rewel; atau ini imbas dari kekecewaannya thd ke2 ortunya yg ‘menurut’ dia lebih memperhatikan adik2nya? Bagaimana menurut dokter?

    selain itu, sy pribadi, ketidakpuasan sy dgn kondisi ini, juga menjadikan sy depresi. sekedar informasi, sy lulusan S2 dari PTN jogja, berprofesi sbg IRT dan dosen tidak tetap di salah satu PTS. income selama ini hanya dari suami, seorang PNS. sy merasa tidak berharga karena’hanya’ berprofesi sbg IRT, tidak memberi sumbangan materi untuk keluarga, dgn anak2 pun juga merasa sering tidak didengarkan dan kurang waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar karena sibuk dgn urusan dapur (tanpa pembantu). Segala keterbatasan ini membuat sy merasa tidak mempunyai sumbangsih apapun dalam keluarga ini. saat suami bekerja, sy ditemani dgn ibu mertua. dan menurut sy, ada bbrp tindakan / bantuan dr ibu mertua yg tidak sesuai dgn cara sy mendidik anak2 sy, terutama soal kedisiplinan. anak akan melihat kekonsistenan orang2 di sekitarnya. saat ada 2 org dewasa mempunyai tindakan/tanggapan yg berbeda, mereka akan berlari pada pihak yg menguntungkan. di titik ini, sy merasa tidak dihargai sama sekali dan merasa sendirian, apakah saya salah dok?

    Mohon pencerahannya supaya sy tidak merasa lebih gila lagi…supaya sy mempunya energi positif yg bisa sy berikan untuk anak-anak sy.

    Tks

    1. Dear ibu Retha,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Saya berempati dengan problem ibu karena bisa membayangkan kelelahan ibu dalam mengurus rumah tangga seorang diri.
      Melihat problem ibu yang cukup banyak, mari coba kita bahas satu per satu.

      1. Mengenai perilaku si sulung
      Orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anaknya dan karena kita semua diajarkan bahwa tidur siang baik bagi anak-anak, maka kemudian banyak orang tua menjam-kan total tidur anak karena merasa hal itu yang terbaik. Ada baiknya ibu mencoba melihat pola sebetulnya berapa jam total kebutuhan tidur si sulung. Meskipun anak-anak sekali pun, mereka juga memiliki jumlah jam tidur yang pas untuk mereka. Misalkan ia tidak tidur siang namun tetap dapat beraktivitas dengan baik dan dapat berprestasi dengan baik dalam kegiatan sekolah, saya rasa tidak tidur siang tidak apa-apa bu.

      Untuk menekan sikapnya yang menjengkelkan ibu, ibu dapat memberikan pilihan bagi si sulung untuk mengganti jam tidur siangnya dengan aktivitas lain yang berguna selain bermain. Misalnya: “kamu boleh pilih tidur siang atau mengerjakan PR”, dsb. Aktivitas pengganti dapat ibu diskusikan dengan si sulung.

      2. Sebagai lulusan S2, bisa dimengerti bahwa ibu merasa tidak berharga dengan “hanya” menjadi IRT. Mungkin dapat didiskusikan dengan suami, bisnis atau usaha sampingan yang masih dapat ibu kerjakan di rumah namun tidak menyita waktu ibu juga untuk tetap dapat mengawasi pertumbuhan anak-anak. Saat ini banyak sekali ibu-ibu yang bekerja dari rumah dan hal ini juga dimungkinkan dengan akses telekomunikasi yang baik.

      Juga yang jangan dilupakan bu, selalu luangkan waktu setidaknya beberapa jam dalam seminggu bagi diri ibu sendiri. Bicarakan hal ini dengan suami. Semua manusia memiliki kebutuhan untuk memperhatikan dirinya sendiri. Bila ibu senantiasa hanya “memberi” tapi tidak pernah mendapatkan apa-apa tentu ini akan sangat melelahkan secara mental. Dampak akhirnya bukan hanya ibu merasa lelah, namun juga akan berimbas pada relasi dengan anak dan suami.

      3. Mengenai pola pedidikan yang berbeda dengan nenek anak-anak
      Hal ini juga membutuhkan diskusi terbuka dengan nenek dari anak ibu. Ada baiknya bicarakan dulu dengan suami dan berdiskusi bagaimana cara terbaik untuk bicara dengan nenek tanpa menyinggung beliau. Buatlah kesepakatan pola didik dengan beliau.

      Semoga jawaban saya membantu.

      Salam,

      dr.irma

  18. Dear Dr. Irma,
    Saya sedang bingung langkah apa yang harus saya lakukan sekarang. Saya merasa memiliki hampir atau mungkin semua gejala borderline personality disorder.
    Untuk mendapat diagnosa yang tepat, yang mana yang harus saya tuju, psikolog atau psikiater?
    Ataukah dibutuhkan mengikuti semacam tes terlebih dulu baru bisa ke psikiater/psikolog?

    Mohon pencerahannya dok,

    Terimakasih banyak.

    Regards.

    1. Dear SY,

      Untuk mengetahui ciri kepribadian/gangguan kepribadian diperlukan pemeriksaan secara klinis. Hingga saat ini belum ada alat tes tertulis yang dapat digunakan untuk mendeteksi suatu gangguan kepribadian.

      Untuk diagnosa, sebaiknya SY berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan dengan psikiater terdekat.

      Salam,

      dr.irma

  19. dear dr irma, salam kenal
    mhn maaf dok saya mau konsultasi, sy seorang dokter umum yg bekerja di rs swasta di jogja, beberapa waktu yang lalu sy mencoba mengambil ujian ppds, dan hasilnya sy msh blm diterima utk ppds, sy sudah mencoba 3 kali di bidang yg sama, dan sy cb bertanya nilai apa yg masih kurang, kebetulan oleh dokter konsulen kenalan sy memperoleh info klo dari nilai akademis mgkn bs memenuhi syarat, tetapi dinilai psikologis sy dikatakan klo pada saat sy mengerjakan menurut penilaian seperti dalam kondisi “marah”, tp sy kurang tau di tes psikologi yang mana, kmrn tes psikologi yg saya ikuti wartegg test, kraeplin n pauli tes, mmpi.

    1. tes apa yg bisa mengetahui kondisi psikologi saat itu? (mgkn mmpi ya dok?) tips n trik utk lolos tes mmpi apa ya dok?

    skrg sedikit curhat dok, pada saat mendengar info tersebut sy coba menerima apa adanya n introspeksi diri saya sendir, tetapi ada salah satu keluarga (tante) saya yg memberi saran mgkn krn kondisi keluarga saya jadi saya menjawab spt itu, kondisi keluarga saya kebetulan jg dari kalangan medis dan ayah sy memiliki 2 org istri, sudah sejak 13 thn yll, tetapi jujur dok mnrt sy nda masalah krn pada saat proses ayah hendak menikah lg yg meminta ijin ke anak2 beliau adalah ibu kandung saya, bukan atas keinginan ayah, jadi atas keinginan ibu kandung saya, ibu tiri saya kenalan ayah saya saat naik haji, setelah menikah kedua kalinya, kehidupan keluarga kami mnrt sy cukup baik, krn kita semua ada di satu rumah baik ibu kandung maupun ibu tiri, tp ya wajar jg klo sedikit2 ada masalah krn manusia jg susah utk adil walopun sudah poligami
    tetapi sudah sktr 4 tahun terakhir ini mulai ada jarak di keluarga kami, terutama sy dg ayah, stlh lulus mjd dokter umum dan berkeluarga sy tdk mengambil ptt seperti halnya rekan sejawat yg laen sy pillih tetap di jogja utk membantu ayah mengurusi rmh skt, tetapi mgkn krn sy msh muda dan idealis terkadang sy ingin melakukan perubahan tertentu tapi selalu ditolak oleh ayah sy krn mgkn beliau merasa bahwa rmh skt berawal dari perjuangan beliau, dan sy terkadang jd merasa tdk dihargai apa yg sudah perjuangkan utk memajukan rmh sakit yg beliau rintis
    dan akhirnya sampai skrg setiap kali ada ide atau usulan dan tdk disetujui ya sudah sy pilih diam saja, krn sy nda mau ribut dg ayah sy, dan yg mengerti kondisi ini adalah ibu kandung saya

    2. mnrt dokter apa yg hrs sy lakukan, kadang sy ingin mengumpulkan seluruh keluarga utk duduk bersama dan mengutarakan apa saja yg menjadi uneg2 selama ini agar baik hubungan keluarga dan pengembangan rmh skt yg beliau rintis dpt semakin maju, tetapi krn sy anak plg kecil jd terkadang nda dianggap.

    terima kasih dok atas jawabannya dan bantuannya, dan jika diijinkan sy ingin konsultasi lgsg via email dokter

    1. Dear dr.Alma,

      Maaf saya baru menjawab konsultasinya.
      1. Penilaian profil psikologis calon PPDS biasanya sedikit banyak dipengaruhi oleh hasil MMPI. Melihat jawaban dari konsulen dokter, maka kemungkinan memang terdapat gambaran profil klinis MMPI yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi di departemen tujuan dokter. MMPI adalah tes yang digunakan untuk melihat profil psikologis seseorang pada saat tertentu terutama dapat melihat ada atau tidaknya suatu problem kejiwaan tertentu pada saat pemeriksaan. Kegunaaannya hampir mirip dengan di saat kita melakukan tes lab atau pemeriksaan radiologis ketika kita hendak melakukan diagnosis penyakit fisik. Namun demikian, kecenderungan sifat seseorang pun dapat terlihat dari tes ini, misal apakah seseorang bersifat dominan atau submisif, kemampuannya mengikuti aturan, tanggung jawabnya dalam keseharian, sikapnya terhadap figur otoritas, dsb. Bila mana diperbolehkan di institusi tempat dokter mendaftar untuk berkonsultasi mengenai hasil pemeriksaan mmpi yang dilakukan selama tes saringan masuk, maka ada baiknya dokter meminta hasil tes tersebut dan berkonsultasi dengan bagian psikiatri setempat.

      Terus terang saya tidak dapat memberikan tips dan trik dalam menjawab mmpi. Instrumen psikometri ini adalah salah satu yang paling sulit untuk dimanipulasi. Suatu profil psikologis tertentu dapat disimpulkan dari beberapa pernyataan yang maksudnya sama namun dinyatakan dalam cara yang berbeda. Yang paling baik adalah mengisi sesuai dengan apa yang kita pikirkan pertama kali. Sikap konsisten sangat menentukan hasil dari pemeriksaan kita. Berusaha terlihat lebih baik ataupun lebih buruk dari kondisi sebenarnya akan terlihat pada pemeriksaan mmpi.

      Bila mana sudah 3 kali mendaftar di bidang spesialistik tertentu dan tidak diterima, maka saran saya ada baiknya dokter memilih bidang lainnya. Dan yang juga penting, ada baiknya melakukan tes minat bakat sebelumnya sehingga kita dapat masuk ke bidang spesialistik yang sesuai dengan minat dan bakat kita.

      2. Untuk problem keluarga sendiri, bila mana hal ini sampai cukup mengganggu pikiran dokter, maka ada baiknya didiskusikan bersama dalam keluarga. Problem dengan ayah, mungkin dapat didiskusikan lebih dulu secara personal dengan ayah dokter.

      Salam,

      dr.Irma

  20. Dear dr. Irma
    Saya adlh seorng mhsiswa jurusan ksehatan tingkat akhir..jujur saja sy msuk k jurusan ini krna orng tua sy..sy tidak pernah mnyukai jrsan sy yg skrng wlaupun sy sdh hmpir 5 thun brada dsini sy tdk pernah mrasa bhagia..sy terus mrasa mnyesal dan mnyesal disetiap harinya..krnany sy sering menangis sndiri tpi ortu sy tidak tw krn mreka mngharpkan sy dpt bkerja di bidang ini nntinya..krna menurut mreka sy psti bisa..memang dri skolah dulu bsa dkatakan sy hmpir slalu mnmpati 3 bsar…bnyk yg blang sy perfeksionis..tpi skrng sy sdh sangat lelah dgn diri sy sndiri..namun sy jg bgtu takut utk kluar…seringkali sy memikirkan utk suicide namun sy takut…sy mrasa tidak pernah bahagia..sy lebih suka dgn ssuatu ttg kegelapan dan kematian..nmun sy slalu mnampilkan wajah baik2 sj pd smw orng dskitr sy dan slLu sperti itu..sy jg tdk mngerti dgn diri sy..sy memiliki dan mudah skali mrasa bersalah pd orng2 dsekitr sy dan tidak brani mngekspresikan prasaan sy…orng2 d skitar sy jg puny mindset trhadap sya..klw sy pintar, smwnya bsa sy handle..dan ortu sy sllu mnganggap sy mandiri…shingga sy sllu mnutupinya dri orng lain..slain itu jujur sj dri sejak kcil sy puny kbiasaan bicara sndiri dgn khyalan sy bhkan smpai saat ini krn sy sulit trbuka dgn orng lain….
    Bgaimana mnurut dokter ?? Apa masalah dlm diri sy ? Apakah sy hrus knsultasi psikolog atw psikiater scr lngsung ? Mhon pncerahanny..
    Terima kasih, dokter…

    1. Dear am,

      Tampaknya am menderita kondisi tekanan emosi berkepanjangan yang saat ini sudah muncul dalam bentuk gejala depresi yang cukup berat. Jangan biarkan hal ini berkelanjutan. Dengan kondisi saat ini, akan lebih baik Am pergi ke dokter psikiater terdekat, gejala depresi dapat dikendalikan dengan pengobatan. Bila sindrom depresi sudah lebih terkendali, Am dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk melakukan konseling.

      Salam,

      dr.Irma

Pesan Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s